Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat mendekati US$79,50 pada perdagangan awal Asia hari Kamis, mendekati level tertinggi dalam satu bulan. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap aset militer Iran dan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap negara tersebut. The Guardian melaporkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. CENTCOM juga menyebut pesawat AS menembakkan rudal ke cerobong asap sebuah kapal tanker minyak di jalur air strategis itu, sehingga melumpuhkan kapal tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak suka menetapkan tenggat waktu saat ditanya apakah Iran memiliki batas waktu sebelum AS memulai serangan. Eskalasi konflik ini kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, yang menjadi pendorong utama kenaikan harga WTI. Di sisi lain, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah turun pada pekan lalu. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah untuk pekan yang berakhir pada 10 Juli turun 1,693 juta barel, dibandingkan penurunan 2,998 juta barel pada pekan sebelumnya. Angka ini juga lebih kecil dari ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 2,6 juta barel.







