Inflasi konsumen AS melambat pada Juni dibandingkan Mei, terutama karena penurunan harga bensin, menurut data ekonomi yang dirilis pada Selasa. Laporan indeks harga konsumen (CPI) ini muncul di tengah periode yang sensitif bagi Wall Street, ketika risiko geopolitik masih menjadi faktor besar dalam arah inflasi. Penurunan harga minyak pada Juni, setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran, membantu meredakan tekanan harga. Namun, situasi berubah cepat pada Juli setelah gencatan senjata AS-Iran runtuh dan kedua pihak berebut kendali atas Selat Hormuz, sehingga harga minyak kembali melonjak.
Laporan ini juga hadir saat Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, menegaskan bahwa bank sentral akan tetap memusatkan perhatian pada mandat stabilitas harga. Dalam pidato tertulis untuk kesaksiannya di Kongres, Warsh mengatakan The Fed berkomitmen untuk memastikan kebijakan moneter yang tepat dan menempatkan inflasi tinggi lima tahun terakhir ke masa lalu. Meski CPI dipantau ketat, The Fed lebih memilih indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, khususnya PCE inti, sebagai acuan target inflasi jangka panjang 2%. Data CPI dan PPI menjadi masukan penting untuk penghitungan PCE. David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, mengatakan data CPI Juni merupakan kabar baik bagi Warsh dan The Fed karena tidak hanya harga energi yang turun, tetapi juga harga mobil, perumahan, dan pakaian. Namun, ia mengingatkan bahwa tren ini bisa cepat berubah jika konflik Timur Tengah kembali mendorong harga minyak naik.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, CPI utama AS turun 0,4% secara bulanan pada Juni, penurunan terbesar sejak April 2020. CPI inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi tetap datar setelah naik 0,2% pada Mei. Secara tahunan, CPI utama naik 3,5% dan CPI inti 2,6%, keduanya di bawah perkiraan pasar dan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan CPI utama terutama dipicu oleh harga bensin yang anjlok 9,7% secara bulanan, penurunan terbesar sejak Agustus 2022. Hal itu ikut menekan harga energi secara keseluruhan sebesar 5,7%, penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Pelemahan harga bensin terjadi setelah penandatanganan nota kesepahaman sementara AS-Iran pada pertengahan Juni yang membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Aktivitas pengiriman yang meningkat di jalur tersebut meredakan kekhawatiran pasokan dan membuat harga minyak Brent turun lebih dari 20% bulan lalu.
Namun, premi risiko geopolitik kembali muncul pada Juli ketika ketegangan AS-Iran meningkat tajam. Kedua pihak saling melancarkan serangan, sementara Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Akibatnya, harga Brent melonjak lebih dari 9% hanya pada hari Senin. Skyler Weinand, kepala investasi di Regan Capital, mengatakan data CPI yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan lonjakan inflasi akibat perang Iran mulai mereda, tetapi kondisi itu mungkin hanya sementara jika ketegangan terus meningkat. Ia menilai inflasi yang lebih rendah bisa membuat The Fed tetap menahan suku bunga, meski nada Warsh sejauh ini masih cenderung agresif dan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga jika diperlukan.







