Harga emas naik pada hari Selasa, dibantu oleh dolar AS yang lebih lemah, setelah data inflasi konsumen yang lebih rendah dari perkiraan mendorong para pedagang untuk mengurangi ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kepala bank sentral yang baru juga menegaskan kembali menjadi $4.052,96/onz.
Ulasan Analisa Fundamental
Inflasi konsumen AS pada Juni melambat lebih dari perkiraan, terutama karena harga bensin turun tajam. Data ini memberi sedikit ruang bagi The Fed untuk menahan laju pengetatan, tetapi ketegangan AS-Iran yang kembali memanas membuat risiko inflasi belum benar-benar hilang. CPI utama AS turun 0,4% secara bulanan, penurunan terbesar sejak April 2020. CPI inti tetap datar, sementara laju tahunan CPI utama melambat ke 3,5% dan CPI inti ke 2,6%, keduanya di bawah ekspektasi pasar. Pelemahan inflasi terutama datang dari harga bensin yang turun 9,7% dalam sebulan. Namun, kondisi berubah cepat pada Juli karena konflik AS-Iran kembali meningkat dan harga Brent melonjak lebih dari 9% dalam sehari. Artinya, disinflasi Juni bisa bersifat sementara jika gangguan energi berlanjut. Data yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi tekanan jangka pendek agar The Fed segera menaikkan suku bunga. Ini mendukung emas dan menekan dolar.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Rabu, di pasar Asia harga emas kembali tertekan karena AS – Iran masih panas, kendati data inflasi turun tajam. Harga emas turun ke level $4042, setelah ditutup di kisaran $4052 hari Selasa. selanjutnya para investor tetap melihat perkembangan konfik Timur Tengah. Emas turunnya tertahan di $3983/onz. Resistance emas saat ini di $4080, $4103 hingga $4121. Support emas menguji area $4034, $4013, $3983. Emas diperkirakan bergerak dalam range antara $4080 hingga $3960.







