Para pembuat kebijakan moneter AS menilai prospek suku bunga masih sangat tidak pasti, dengan pembahasan yang mencakup berbagai skenario mulai dari tekanan inflasi yang mereda hingga inflasi yang tetap tinggi, menurut notulen rapat Federal Reserve bulan Juni yang dirilis pada Rabu. Dalam pertemuan 16–17 Juni, para peserta mencatat bahwa inflasi masih tinggi dan sebagian mencerminkan kenaikan harga akibat guncangan pasokan energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Sejumlah peserta bahkan sempat mendorong kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, debat yang lebih luas tampak terbelah. “Sebagian besar” peserta menilai ada skenario di mana inflasi akan kembali ke target 2% Fed secara alami seiring waktu. “Namun, sebagian besar peserta juga menunjukkan skenario di mana, dalam konteks pasar tenaga kerja yang stabil, inflasi akan tetap tinggi karena permintaan yang kuat terkait AI, konflik di Timur Tengah, atau dampak tarif. Dalam skenario tersebut, hampir semua peserta menilai bahwa pengetatan kebijakan tambahan kemungkinan diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke 2%,” demikian bunyi notulen tersebut.
Inflasi dan minyak kembali jadi fokus
Notulen ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Ketua Fed baru, Kevin Warsh. Bulan lalu, Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, sesuai ekspektasi pasar. Proyeksi terbaru bank sentral juga menunjukkan nada yang cenderung hawkish, dengan sekitar separuh pembuat kebijakan memperkirakan masih ada kenaikan suku bunga tahun ini. Warsh juga mengubah arah komunikasi Fed dengan memangkas panjang pernyataan FOMC, memfokuskan pesan pada penanganan inflasi, menghentikan forward guidance, dan mengumumkan peninjauan menyeluruh terhadap sejumlah operasi bank sentral. Saat keputusan suku bunga itu diumumkan, AS dan Iran baru saja menandatangani kesepakatan perdamaian sementara yang menghentikan pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz. Setelah itu, pembicaraan di Swiss menghasilkan pencabutan sanksi AS atas penjualan minyak Iran dan lanjutan negosiasi teknis. Harga minyak pun turun kembali ke level sebelum perang, meredakan kekhawatiran inflasi untuk sementara. Namun, sentimen berubah pekan ini setelah ketegangan AS-Iran meningkat tajam kembali. Washington dan Teheran saling melancarkan serangan pada Selasa, menyusul serangan baru Iran terhadap tiga kapal dagang di dan sekitar Selat Hormuz. Presiden Donald Trump pada Rabu mengatakan gencatan senjata kini telah “berakhir,” meski ia menambahkan bahwa ia tidak memperkirakan perang akan meletus lagi. Di tengah eskalasi itu, harga minyak melonjak, bahkan sempat membawa Brent menembus $80 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua pekan.
Fed cenderung memangkas bahasa
Notulen juga menunjukkan bahwa sejumlah peserta menilai ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan perubahan pada format pernyataan kebijakan FOMC. Pernyataan Juni memang jauh lebih ringkas dibanding era Ketua Fed sebelumnya, Jerome Powell, hanya satu halaman dan ditutup dengan kalimat sederhana bahwa FOMC akan menjaga stabilitas harga. Warsh sebelumnya telah menegaskan ketidaknyamanannya terhadap forward guidance, termasuk saat masih menjabat sebagai gubernur Fed pada 2006–2011. Dalam komentar di Portugal awal bulan ini, ia mengatakan format pernyataan yang baru seharusnya hanya berisi “fakta” dan tidak lagi memuat petunjuk arah kebijakan di masa depan. “Sebagian besar peserta menyatakan bahwa mereka melihat keuntungan dala mempersingkat pernyataan tersebut. Sebagian besar juga menekankan bahwa mereka lebih memilih tidak mengulangi bahasa dalam pernyataan pasca-rapat sebelumnya yang memberi kesan bias pelonggaran terkait arah suku bunga ke depan,” demikian isi notulen itu.







