Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar US$82,70 per barel pada sesi Asia, Rabu. Kenaikan tersebut terjadi ketika investor menimbang sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Harapan Diplomasi Belum Meyakinkan
Sentimen pasar sempat membaik setelah Menteri Pertahanan Pakistan mengisyaratkan bahwa Washington dan Teheran mulai mendekati suatu kesepakatan. Optimisme juga didukung laporan bahwa pembicaraan paralel antara Iran dan Oman telah memasuki tahap lanjutan. Namun, harapan tersebut kembali meredup setelah Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi bagi para korban serangan yang dikaitkan dengan Teheran. Pernyataan itu merupakan respons terhadap daftar tuntutan Iran, yang antara lain mencakup kompensasi atas kerusakan akibat operasi militer AS dan Israel di kawasan tersebut. Pertukaran tuntutan antara kedua pihak menunjukkan bahwa perbedaan posisi masih lebar. Selama belum ada kesepakatan yang dapat menjamin pembukaan kembali Selat Hormuz, investor cenderung mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Premi Risiko Energi Meningkat
Analis Commerzbank menilai harapan tercapainya kesepakatan baru antara AS dan Iran dalam waktu dekat semakin memudar. Menurut mereka, sikap kedua pihak yang semakin keras dapat mendorong harga Brent menuju US$90 per barel, sementara harga gas oil berpotensi mendekati US$1.350 per ton.







