Harga minyak kembali melemah pada Rabu dan mencatat penurunan selama enam sesi berturut-turut. Tekanan terhadap harga berasal dari meningkatnya harapan atas kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta membaiknya prospek pasokan minyak Timur Tengah setelah Arab Saudi mulai memulihkan jalur ekspor penting. Pada pukul 20.21 waktu AS Timur atau 00.21 GMT, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November turun 0,8% menjadi US$98,45 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 1,1% menjadi US$89,55 per barel. Sehari sebelumnya, kedua kontrak tersebut turun lebih dari 1%, sementara Brent ditutup di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 8 September.
Harapan Pembicaraan AS–Iran
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pejabat Amerika telah mengadakan pertemuan selama tiga jam dengan perwakilan Iran di New York. Pertemuan tersebut disebut berlangsung sangat baik dan produktif, sehingga meningkatkan harapan bahwa negosiasi dapat membantu mengakhiri konflik serta mengurangi gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Pertemuan itu merupakan kontak langsung pertama yang diketahui antara pejabat AS dan Iran sejak Juni. Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dilaporkan turut hadir. Menurut laporan Reuters, Iran mengisyaratkan kemungkinan membuka kembali Selat Hormuz jika Washington mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, Teheran belum mengonfirmasi adanya kesepakatan resmi. Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis bagi pasar energi karena sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Meskipun pergerakan kapal tanker mulai meningkat, risiko terhadap pelayaran masih tergolong tinggi.
Arab Saudi Pulihkan Jalur Ekspor
Arab Saudi dilaporkan mulai mengoperasikan kembali jalur pipa Timur–Barat yang mengalirkan minyak mentah menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut memungkinkan ekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz dan menjadi rute alternatif penting bagi pasokan Arab Saudi. Pipa Timur–Barat sebelumnya ditutup setelah terkena serangan drone pada awal bulan. Jalur ini memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari, tetapi kerusakan pada stasiun pemompaan membuat pemulihan kapasitas penuh diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga delapan minggu. Pemulihan jalur ekspor Saudi dan kemungkinan meredanya konflik AS–Iran mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak. Namun, perkembangan konflik, keamanan Selat Hormuz, dan kecepatan pemulihan infrastruktur Saudi tetap menjadi faktor utama yang dapat menentukan arah harga berikutnya.







