Harga emas turun dari level tertinggi sepuluh minggu di sekitar US$4.450 dan menguji kembali level US$4.311 pada Jumat pagi, didorong oleh kombinasi aksi ambil untung, ketegangan AS–Iran yang kembali memanas, dan rilis data inflasi PPI AS yang sudah diantisipasi. Data CPI, PPI, dan ekspektasi suku bunga The Fed memang membebani dolar, namun perkembangan konfik AS– Iran kembali memanas, hingga dikhawatiran dapat memicu naiknya harga minyak.
Ulasan Analisa Fundamental
Data CPI Juli AS melandai begitu pula PPI, hal ini memangkas spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Namun konflik antara AS-Iran yang berkepanjangan menimbulkan resiko terhadap kerentanan naiknya harga minyak dan inflasi. Hal ini akan membuat the Fed enggan melonggarkan kebijakan. Ketegangan AS–Iran menopang dolar dan membatasi reli emas. Pernyataan sumber senior Iran bahwa tidak ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara Juni, ditambah klaim Trump bahwa AS memegang “kendali penuh” atas Selat Hormuz, memicu kehati-hatian pasar. Dolar AS mendapat dukungan dari sentimen berhati-hati tersebut, sehingga membatasi kenaikan lebih lanjut emas meskipun bias teknikal harian tetap bullish. Ancaman Menteri keuangan AS yang akan mengisolasi Iran dengan ketat, dapat mempertajam konflik dan menjauhkan pembicaraan damai.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Jumat, di pasar Asia harga emas bergerak turun, menguji support $4310/onz. sementara Harga emas naiknya nampak terbatas ke level $4365 karena ketidakpastian Timur Tengah. Naiknya emas didukung oleh prospek melambatnya inflasi, namun terbatasi oleh geopolitik. Turunnya emas tertahan di area support $4300, $4278 hingga $4260. Resistance emas menguji area $4365, $4404, $4450. Emas diperkirakan bergerak dalam range antara $4260 hingga $4365.
Trend pasar bearish.







