Gubernur Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menilai suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kemungkinan sudah mendekati level netral bagi perekonomian. Pada tahap ini, ia menegaskan, langkah kebijakan bank sentral berikutnya akan sepenuhnya ditentukan oleh data ekonomi yang masuk.
“Selama beberapa tahun terakhir, kami terus memperkirakan perekonomian akan melambat, namun faktanya ekonomi justru jauh lebih tangguh dari yang saya bayangkan,” ujar Kashkari, yang kembali menjadi pejabat Federal Reserve (The Fed) dengan hak suara (voting member) tahun ini, dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (6/1).
“Hal itu memberi saya kesan bahwa kebijakan moneter sejauh ini belum memberikan tekanan ke bawah yang terlalu besar terhadap perekonomian. Dugaan saya, saat ini kami sudah cukup dekat dengan posisi netral,” lanjutnya.
Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya telah mengisyaratkan kemungkinan menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini, setelah tiga kali pemangkasan berturut-turut hingga akhir 2025. Risalah rapat The Fed bulan lalu yang dipublikasikan pada 30 Desember menunjukkan mayoritas pejabat masih membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan seiring melambatnya inflasi, meski terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan tersebut.
Data ekonomi yang dirilis sejak pertemuan Desember memberikan sinyal campuran. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada November, tertinggi sejak 2021. Di sisi lain, kenaikan harga konsumen tercatat lebih rendah dari perkiraan, memperkuat argumen bagi pelonggaran suku bunga. Namun, perekonomian AS justru tumbuh pada kuartal ketiga dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran akan potensi kebangkitan inflasi.
“Kami membutuhkan lebih banyak data untuk menentukan mana yang akan menjadi kekuatan dominan—apakah tekanan inflasi atau kondisi pasar tenaga kerja. Dari posisi yang kami perkirakan sudah mendekati netral itu, kami kemudian bisa bergerak ke arah yang diperlukan,” kata Kashkari.
“Risiko inflasi terletak pada sifatnya yang persisten, termasuk dampak tarif yang bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya merambat ke seluruh perekonomian. Di saat yang sama, saya juga melihat risiko bahwa tingkat pengangguran bisa melonjak dari level saat ini,” tambahnya.







