Senat Amerika Serikat memberikan teguran langka terhadap Presiden Donald Trump melalui pemungutan suara prosedural pada Kamis (8/1). Mereka menyetujui kemajuan rancangan undang-undang yang membatasi aksi militer lebih lanjut di Venezuela. Langkah ini mencerminkan oposisi politik yang kuat terhadap intervensi asing tersebut, sekaligus kekhawatiran Partai Republik soal komitmen jangka panjang AS di luar negeri.
Dalam voting tersebut, lima senator Republik bergabung dengan Demokrat untuk membatasi wewenang Trump. Ini menyusul keluhan bipartisan atas kurangnya konsultasi Kongres sebelum Trump memerintahkan militer menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya. Konteksnya, ketegangan di Venezuela memuncak akibat krisis ekonomi dan politik sejak 2019, dengan AS mendukung oposisi terhadap Maduro.
Trump membalas keras di media sosialnya. Ia menyebut senator Republik pembelot itu "seharusnya malu" dan "tidak pantas terpilih kembali". "Pemungutan suara ini menghambat pertahanan diri dan keamanan nasional Amerika, serta kewenangan Presiden sebagai Panglima Tertinggi," tulisnya.
Para senator yang menentang termasuk moderat Susan Collins (Maine), Lisa Murkowski (Alaska), dan Todd Young (Indiana), serta isolasionis Rand Paul (Kentucky) dan Josh Hawley (Missouri). Meski begitu, resolusi ini masih harus disahkan secara final di Senat pekan depan sebelum dikirim ke DPR, yang kemungkinan kecil menyetujuinya mengingat mayoritas Republik di sana.
Demokrat mengancam blokir pendanaan serangan lanjutan, tapi upaya legislasi ini sulit lolos veto Trump. Sebagian besar senator Republik tetap dukung Trump, termasuk pemimpin mayoritas Mitch McConnell. Namun, kelompok lain khawatir AS terjebak konflik berkepanjangan.
Pernyataan Kunci Para Senator
Todd Young: "Presiden Trump berkampanye janji akhiri perang tanpa akhir. Kampanye militer berkepanjangan di Venezuela bertolak belakang dengan tujuannya."
Susan Collins: "Penggunaan Undang-Undang Kekuasaan Perang diperlukan, mengingat komentar Trump soal 'pasukan darat' dan keterlibatan berkelanjutan di Venezuela."
Rand Paul: Tokoh isolasionis ini lama kritik aksi militer presiden tanpa persetujuan Kongres, sesuai kewenangan konstitusional.
Trump telah tegaskan akan veto resolusi jika lolos Kongres, menegaskan posisinya sebagai panglima tertinggi.







