Senat Amerika Serikat (AS) dijadwalkan menggelar pemungutan suara prosedural krusial pada Kamis (8 Januari 2026) terkait resolusi yang bertujuan memblokir aksi militer lebih lanjut terhadap Venezuela. Langkah ini menjadi ujian pertama bagi dukungan Kongres terhadap intervensi Donald Trump di negara Amerika Selatan tersebut.
Resolusi tersebut memanfaatkan wewenang Kongres berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Perang (War Powers Act) 1973, yang memerlukan suara mayoritas sederhana untuk lolos di Senat—saat ini dikuasai Partai Republik. Namun, meski berhasil di Senat, resolusi ini diprediksi sulit menembus DPR atau memiliki kekuatan hukum mengikat bagi presiden.
Latar Belakang dan Dukungan Silang Partai
Pada November lalu, Senator Republik Rand Paul (Kentucky) dan Lisa Murkowski (Alaska) berpindah haluan dari garis partai dengan mendukung upaya menghentikan serangan militer terhadap tersangka pengedar narkoba berafiliasi Venezuela. Senator Demokrat Tim Kaine (Virginia), pendukung utama resolusi ini, berharap lebih banyak rekan Republik ikut bergabung.
Kaine menyatakan, setidaknya empat suara senator Republik diperlukan untuk menang, asumsi seluruh senator hadir dan semua Demokrat setuju. Selain resolusi, ia juga mendorong pemutusan pendanaan aksi militer dengan menyisipkan batasan anggaran ke paket pengeluaran federal mendatang.
Pemungutan suara ini bisa mengubah dinamika kebijakan luar negeri AS di Venezuela, terutama di tengah ketegangan minyak dan sanksi.







