Emas terkoreksi setelah mencapai level tertinggi baru dalam tiga bulan; data PCE AS menjadi sorotan. Harga emas turun setelah mencetak rekor tertinggi baru dalam tiga bulan selama sesi perdagangan Asia. Aksi pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury menghidupkan kembali narasi penurunan nilai (debasement) Dolar AS dan mendukung permintaan terhadap emas. Selanjutnya pasar akan menanti data PCE AS dan pidato Kevin Warsh.
Ulasan Analisa Fundamental
Emas (XAU/USD) turun pada Selasa karena aksi ambil untung setelah menyentuh tertinggi 3 bulan di $4.697, meski USD dan imbal hasil Treasury AS melemah. Tekanan jual jangka pendek: Harga emas terkoreksi dari level $4.697 akibat jenuh beli (overbought) dan profit-taking trader, bukan karena penguatan USD atau yield. Dukungan struktural dari pasar obligasi AS: Intervensi Menkeu AS Scott Bessent pekan lalu diperkirakan akan mendorong pembelian obligasi Treasury hingga sekitar $8 miliar (9 Sept–4 Nov), yang menurut strategi pasar memicu lonjakan harga emas dan perak serta menghidupkan narasi pelemahan USD. Faktor geopolitik: Berita Timur Tengah tetap jadi fokus; Iran menyatakan siap hadapi sanksi AS setelah Washington meluncurkan “Operation Economic Outcast” untuk memutus dukungan keuangan bagi Teheran, menambah volatilitas di tengah pasar menanti data PCE Inflasi AS.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Rabu, di pasar Asia harga emas Nampak masih bergerak dalam range terbatas. Potensi terkoreksi Nampak terbatas dengan belum merubah trend bullish. Naiknya emas didukung oleh rencana pembelian obligasi jangka Panjang AS. Saat ini pasar menunggu laporan data PCE Price AS. Turunnya emas tertahan di area support $4605, $4577 hingga $4550. Resistance emas menguji area $4705, $4732, $4770. Emas diperkirakan bergerak dalam range $4600 hingga $4705. Trend pasar bullish.







