1787114847457-5b0hm.jpgSumber Foto: bing.com

Saham AS Dalam Tekanan Karena Yield Obligasi dan Harga Minyak Naik

Berita

radityo - octaNews

19 Agu 2026 11:47 WIB

Kontrak berjangka indeks saham AS bergerak turun pada Selasa malam setelah Wall Street menutup perdagangan dengan pelemahan untuk sesi ketiga berturut-turut. Aksi jual di pasar obligasi global dan kenaikan harga minyak membuat investor lebih berhati-hati, terutama terhadap saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Pada perdagangan reguler sebelumnya, S&P 500 turun 0,7%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,2%, dan Nasdaq Composite merosot 1,3%— penurunan harian terdalam sejak 29 Juli.

Saham Teknologi Tertekan Yield

Aksi jual paling besar terjadi pada saham teknologi dan semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor turun 5%, sementara Nvidia turun 2,3% dan Micron Technology anjlok 7%. Tekanan terhadap saham teknologi dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi. Yield yang lebih tinggi meningkatkan tingkat diskonto untuk proyeksi laba masa depan, sehingga menurunkan nilai kini perusahaan berbasis pertumbuhan tinggi. Sektor teknologi menjadi paling rentan karena valuasinya banyak bergantung pada ekspektasi pendapatan jangka panjang. Pasar obligasi kini menjadi fokus utama investor. Yield Treasury AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,335% pada Selasa, level tertinggi sejak Juni 2007, sebelum turun tipis ke sekitar 5,29%. Yield Treasury tenor 10 tahun berakhir di sekitar 4,71%. Kenaikan yield global mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, defisit fiskal yang besar, dan peningkatan beban utang pemerintah di sejumlah negara.

Minyak di Atas $91 Tambah Risiko Inflasi

Harga minyak juga memperburuk kekhawatiran inflasi. Brent melanjutkan penguatannya hingga menembus $91 per barel dalam perdagangan Asia pada Rabu, didorong oleh ketidakpastian konflik AS–Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan belum ada pembicaraan yang dijadwalkan dengan Iran, sementara blokade angkatan laut AS tetap berlaku. Iran membantah adanya proses negosiasi aktif. Situasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Jika harga minyak bertahan tinggi, inflasi dapat kembali meningkat dan membatasi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Risalah FOMC dan Laporan Ritel

Pasar kini menantikan rilis risalah rapat FOMC Juli. Investor akan mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga, terutama setelah tiga presiden Federal Reserve regional menunjukkan perbedaan pandangan atas keputusan mempertahankan suku bunga. Dari sisi laporan keuangan, Home Depot membukukan laba dan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi, serta mencatat pertumbuhan penjualan sebanding terkuat sejak kuartal III 2022. Laporan keuangan Walmart dan Target juga akan menjadi perhatian pasar pekan ini. Kinerja kedua peritel tersebut dapat memberi gambaran mengenai kekuatan belanja konsumen AS di tengah tekanan suku bunga tinggi dan risiko inflasi energi.

S&P 500 Masih Dekat Rekor

Meski terkoreksi selama tiga sesi beruntun, S&P 500 masih berada sekitar 1,3% di bawah rekor penutupan tertingginya yang dicapai Kamis lalu. Hal ini menunjukkan sentimen pasar belum sepenuhnya berubah negatif, tetapi risiko jangka pendek meningkat seiring kombinasi yield tinggi, harga minyak yang menguat, dan ketidakpastian kebijakan The Fed.



Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.