Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 Juli menunjukkan perbedaan pandangan di internal Federal Reserve semakin melebar. Sejumlah pejabat mendukung kenaikan suku bunga, sementara banyak anggota lainnya menilai pengetatan tambahan dapat diperlukan apabila inflasi gagal kembali menuju target 2%. Meski demikian, para pembuat kebijakan tetap menekankan bahwa arah suku bunga akan sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk. Ketidakpastian inflasi, perkembangan pasar tenaga kerja, serta risiko geopolitik membuat keputusan kebijakan berikutnya masih terbuka.
The Fed Menahan Suku Bunga
Mayoritas peserta rapat memperkirakan inflasi akan terus melandai pada sisa tahun ini seiring memudarnya dampak tarif dan kenaikan harga energi sebelumnya. Namun, banyak pejabat menilai risiko inflasi yang bertahan lebih tinggi untuk waktu lebih lama masih signifikan. Perkembangan konflik Iran menjadi salah satu sumber ketidakpastian utama. Eskalasi geopolitik berisiko mendorong harga energi, mengganggu rantai pasokan, dan memperpanjang tekanan inflasi. Kondisi ini dapat memaksa The Fed mempertimbangkan pengetatan tambahan meskipun pertumbuhan ekonomi mulai melambat The Fed sendiri masih menilai pasar tenaga kerja relatif seimbang, sedangkan pertumbuhan ekonomi tetap solid, ditopang investasi modal dan kenaikan produktivitas.
Data Baru Kurangi Tekanan Kenaikan Bunga
Sejak rapat Juli, sejumlah data AS menunjukkan tanda perlambatan. Penjualan Ritel turun tajam, inflasi inti melandai, dan data ketenagakerjaan memburuk setelah perekrutan melemah serta data bulan-bulan sebelumnya direvisi turun. Rangkaian data tersebut mengurangi urgensi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 36%, turun dari lebih dari 70% pada akhir Juli. Walau demikian, prospek inflasi yang masih sensitif terhadap harga energi membuat pasar belum sepenuhnya mengabaikan kemungkinan langkah hawkish berikutnya.
Yield Tinggi dan Fokus Jackson Hole
Pasar obligasi sempat mengalami tekanan, dengan yield Treasury tenor panjang mencapai level tertinggi hampir dua dekade. Salah satu pemicunya adalah persepsi bahwa komunikasi Ketua The Fed Kevin Warsh belum cukup tegas dalam menegaskan komitmen terhadap target inflasi 2%. Warsh juga mengusulkan pengurangan jumlah rapat kebijakan FOMC dari delapan menjadi enam kali per tahun. Usulan tersebut tidak akan diterapkan pada tahun ini, tetapi menunjukkan adanya diskusi mengenai perubahan proses pengambilan kebijakan moneter. Fokus pasar berikutnya adalah pidato Warsh dalam simposium Jackson Hole. Pernyataannya berpotensi menjadi petunjuk penting mengenai toleransi The Fed terhadap inflasi, kondisi yang dapat memicu kenaikan suku bunga, serta arah kebijakan moneter pada pertemuan-pertemuan berikutnya.







