Harga emas stabil di dekat level terendah tujuh minggu pada hari Selasa setelah jatuh 4% pada sesi sebelumnya, karena ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz menjaga harga energi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve. XAU/USD tidak banyak berubah di level $4.118,54 per ons. Indeks Dolar AS tidak banyak berubah di angka 101,2. Selanjutnya pasar akan mengamati laporan data tenaga kerja.
Ulasan Analisa Fundamental
Kebuntuan negosiasi AS–Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga minyak dan imbal hasil Treasury AS tetap tinggi. Iran tetap mempertahankan syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Presiden Trump menolak usulan Iran untuk membuka jalur air tersebut dalam tujuh hari. Ketidakpastian ini menekan arus energi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Harga minyak yang lebih tinggi turut memicu aksi jual Treasury. Imbal hasil Treasury 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, perusahaan, dan konsumen. Hal ini juga didukung oleh solidnya ekonomi AS. Berikutnya pasar akan mencermati data PCE pada Rabu dan nonfarm payrolls pada Jumat. Data inflasi serta tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan semakin menekan emas. Bila laporan data NFP dirilis lebih rendah, hal itu akan memudarkan prospek naiknya suku bunga.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Selasa, di pasar Asia harga emas terkoreksi menguji resistance $4159. Harga emas sempat turun ke level $4181. Pesan hawkish the Fed menguntungkan dolar, sementara diplomasi AS - Iran yang berakhir buntu mendorong naiknya minyak. Turunnya emas menguji support di area $4100, $4080 hingga $4050. Sementara resistance emas menguji area $4159, $4188, $4214. Emas diperkirakan bergerak dalam range $4214 hingga $4080.







