Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada Jumat, sesuai ekspektasi pasar. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1995 dan menjadi kenaikan suku bunga kedua BOJ pada 2026. Keputusan ini diambil dengan suara 7–2. Dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menolak kenaikan karena masih melihat ketidakpastian dalam prospek ekonomi Jepang.
Risiko inflasi meningkat
BOJ menilai ekonomi Jepang tumbuh moderat, tetapi risiko inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah serta permintaan produk semikonduktor dan elektronik terkait kecerdasan buatan. Kenaikan inflasi produsen juga mulai diteruskan ke harga konsumen. BOJ memperkirakan inflasi inti dapat kembali berada di atas target 2% pada paruh kedua tahun fiskal 2026, didorong harga minyak, produk teknologi, dan pelemahan yen.
Kenaikan lanjutan belum memiliki jadwal
BOJ menyatakan akan terus menyesuaikan suku bunga jika pertumbuhan dan inflasi berkembang sesuai perkiraan, tetapi belum memberikan jadwal pasti untuk kenaikan berikutnya. Analis Capital Economics menilai bank sentral berpotensi memperketat kebijakan lebih cepat dari perkiraan pasar. Setelah keputusan tersebut, yen melemah dengan USD/JPY naik 0,7%, sementara Nikkei 225 menguat 2,1%. Pasar kini menunggu penjelasan Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengenai arah kebijakan berikutnya. Intinya: BOJ menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi melampaui target 2%, tetapi perbedaan suara di dalam dewan menunjukkan bahwa langkah pengetatan berikutnya masih bergantung pada perkembangan ekonomi dan harga.







