dolar-dan-euro-bergerak-sideways-yen-menguat-jelang-pertemuan-the-fed-rcb.jpgSumber Foto: bing.com

Dolar dan Euro Bergerak Sideways, Yen Menguat Jelang Pertemuan The Fed, ECB, dan BoJ

berita

radityo - octaNews

10 Sep 2026 12:20 WIB

Dolar AS bergerak sideways pada perdagangan Rabu, sementara perhatian pasar tertuju pada yen Jepang yang terus menguat signifikan. Pelaku pasar valas bersiap menghadapi pekan krusial dengan keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BoJ). Pasar obligasi AS juga menjadi sorotan setelah pengumuman operasi pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS (Treasury) mengecewakan ekspektasi investor, memicu lonjakan imbal hasil (yield). Pada pukul 15.42 waktu Timur (19.42 GMT), Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik tipis 0,1% ke level 98,83.

Yen bertahan di level tertinggi lebih dari tujuh bulan

Yen Jepang menjadi mata uang dengan kinerja terkuat di antara mata uang utama, mencatatkan penguatan sekitar 4% sepanjang September. Reli tajam sejak awal bulan sempat mendorong yen ke level tertinggi 152,89 per dolar AS pada Selasa. Pada Rabu, pasangan USD/JPY turun 0,2% ke level 153,63, mencerminkan continued penguatan yen. Penguatan yen didorong kombinasi ekspektasi pengetatan kebijakan oleh BoJ dan spekulasi intervensi pasar valuta asing. Pasar memperhitungkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh BoJ pada 18 September, dengan ekspektasi Gubernur Kazuo Ueda dapat memberikan sinyal normalisasi kebijakan lebih lanjut sebelum akhir tahun. “Reli yen mencerminkan perubahan fundamental dan teknikal yang nyata, di mana BoJ semakin melangkah jauh dalam normalisasi kebijakan dan pematahan tren. Perhatikan level 152 dengan cermat; penembusan yang meyakinkan di bawah level support ini dapat mempercepat reli yen, memicu aksi short covering tambahan, dan berpotensi mengulang risiko pembongkaran posisi carry trade yen, yang dapat berdampak luas pada aset global, termasuk obligasi pemerintah AS (Treasuries),” ujar Adam Turnquist, kepala strategi teknikal di LPL Financial. Data resmi yang dirilis awal pekan menunjukkan kepemilikan sekuritas asing oleh Jepang turun sebesar US$87,8 miliar pada Agustus, sebuah rekor penurunan. Penurunan tajam cadangan devisa tersebut secara langsung mendanai operasi intervensi mata uang Tokyo yang masif senilai 15 triliun yen (sekitar US$97,67 miliar), yang sebagian dilakukan berkoordinasi dengan Washington.

Obligasi AS merosot jelang rilis data inflasi

sebelumnya US$2 miliar. Bulan lalu, departemen tersebut menyatakan akan meningkatkan nilai buyback menjadi setidaknya US$4 miliar, sementara ekspektasi pasar sebelumnya mencapai minimal US$10 miliar. Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 4,839%, setelah sempat naik 1,2 basis poin ke level 4,816% sebelum pengumuman. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun—yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga—naik 2,7 basis poin menjadi 4,425%. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi umumnya cenderung memperkuat nilai tukar dolar. Langkah Departemen Keuangan tersebut dipandang sebagai intervensi tak terduga untuk menahan lonjakan imbal hasil di tengah tekanan jual berkelanjutan pada pasar obligasi pemerintah. Aksi jual dipicu kombinasi kekhawatiran inflasi akibat melonjaknya harga minyak, kegelisahan terkait besarnya jumlah utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta kekhawatiran mengenai utang nasional AS yang terus membengkak. “Masalah dalam upaya membatasi imbal hasil jangka panjang secara artifisial—seperti melalui pembelian kembali oleh Departemen Keuangan—adalah imbal hasil justru akan melonjak jika pasar menganggap nilai pembelian kembali tersebut terlalu kecil. Hal ini menunjukkan adanya tekanan kenaikan yang kuat,” ujar Robin Brooks, peneliti senior bidang studi ekonomi di Brookings Institution. Kini, perhatian pasar tertuju pada laporan Indeks Harga Produsen (PPI) bulan Agustus yang dirilis Kamis dan data Indeks Harga Konsumen (CPI) hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat secara signifikan memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada pekan depan.

Euro menguat tipis sehari jelang pertemuan ECB

Di sisi lain, nilai tukar euro naik 0,1% menjadi US$1,1629. Pada Kamis, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan secara hampir bulat akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. “Ada perdebatan mengenai apakah ECB sebaiknya terus menaikkan suku bunga di tengah guncangan pasokan, namun pasar jelas meyakini bahwa fungsi reaksi ECB sangat bergantung pada faktor energi, dengan kenaikan harga minyak dan gas baru-baru ini yang mendorong pasar memperkirakan suku bunga puncak (terminal rate) di angka 3%,” ujar Jim Reid dari Deutsche Bank. “Jadi, kenaikan suku bunga besok tampaknya sudah pasti, namun situasinya menjadi rumit setelah itu. Jika harga energi bertahan di tingkat saat ini, pertumbuhan ekonomi semestinya akan terdampak, namun sejauh ini dampaknya tidaklah sebesar yang dikhawatirkan,” tambahnya.

Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.