Harga emas (XAU/USD) turun mendekati $2.619 per troy ounce saat pembukaan perdagangan Senin ini (30 Maret 2026), dipicu oleh spekulasi invasi darat AS ke Iran yang memanaskan ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran meluasnya konflik ini mendorong lonjakan harga minyak global dan memicu ekspektasi inflasi, meski Presiden AS Donald Trump mengklaim optimisme akan kesepakatan cepat dengan Iran—klaim yang belum dikonfirmasi Teheran.
Analisis Fundamental
Harga emas dibuka turun lebih dari 1%, menyentuh $2.619, seiring harga minyak Brent melonjak di atas $102 per barel (naik hampir 3%). Eskalasi konflik Timur Tengah ini secara teoritis memicu ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi, memaksa bank sentral seperti The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan memperketat kebijakan moneter. Hal ini mengurangi daya tarik aset non-yield seperti emas.
Pemicu utama adalah laporan Wall Street Journal (WSJ) bahwa Pentagon AS berencana mengirim 10.000 pasukan tambahan untuk invasi darat ke Iran. Tanggapan keras datang dari Brigadir Jenderal Iran Ebrahim Zolfaqari via televisi negara: "Pasukan AS akan menjadi santapan lezat bagi hiu-hiu di Teluk Persia." Meski Trump menyatakan keyakinan pada kesepakatan damai, ketidakpastian ini terus menekan emas sebagai safe haven.
Analisis Teknikal
Pada penutupan Jumat lalu, emas rebound ke $2.655 dengan tren moderat bullish. Namun, tekanan jual muncul kembali akibat konflik yang berlarut-larut. Harga gagal tembus resistance kuat di $2.660 dan berbalik turun ke $2.619.
Pergerakan selanjutnya bergantung pada berita Timur Tengah:
Skenario bullish (jika negosiasi berhasil): Kenaikan menguji resistance $2.647, $2.655, hingga $2.675.
Skenario bearish (eskalasi konflik): Support di $2.610, $2.595, $2.575, hingga $2.550.
Emas diproyeksikan bergerak dalam range $2.675–$2.550 hari ini. Pantau data CPI AS dan update geopolitik untuk sinyal breakout.
Proyeksi Jangka Pendek: Sideways dengan bias bearish kecuali ada de-eskalasi signifikan.







