Emas naik ke level tertinggi tiga minggu selama sesi Asia pada hari Selasa dan tampaknya tidak terpengaruh oleh penguatan moderat Dolar AS, didukung oleh meningkatnya ketegangan AS-Iran. Namun, potensi kenaikan kemungkinan akan tetap terbatas di tengah ekspektasi Fed yang agresif, yang cenderung melemahkan emas. Para pedagang mungkin juga memilih untuk menunggu rilis angka inflasi konsumen AS terbaru hari ini.
Ulasan Analisa Fundamental
Optimisme atas potensi kesepakatan perdamaian AS-Iran dan de-eskalasi konflik memudar dengan cepat di Tengah permusuhan yang kembali terjadi di Selat Hormuz. Selain itu, Presiden AS Donald Trump dan Iran sama-sama menolak proposal perdamaian satu sama lain untuk mengakhiri perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap di tengah perbedaan pendapat besar mengenai program nuklir Iran. Bahkan, Wall Street Journal melaporkan bahwa Iran telah menolak tuntutan AS untuk membongkar fasilitas nuklirnya dan menangguhkan pengayaan uranium selama 20 tahun. Sementara itu, perkembangan terbaru memicu kenaikan harga minyak mentah dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi. Para pedagang saat ini memperkirakan peluang lebih dari 20% bahwa bank sentral AS akan memberikan setidaknya satu kenaikan suku bunga 25 basis poin (bps) padaakhir tahun ini. Oleh sebab itu, laporan data CPI AS akan sangat dinanti.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Senin, harga emas naik kendati terjadi kegagalan negosiasi. AS menolak proposal perdamaian dan Iran menolak membongkar fasilitas nuklirnya. Harga emas naik ke level $4748 pada pasar AS hari Senin (11/05). Hari ini data CPI akan dirilis. Naiknya emas Nampak terbatas di resistance $4773, $4802 hingga $4836. Sementara turunnya harga emas menguji support $4703/onz, bila terlewati, melanjutkan ke $4680, $4650 Emas hari Senin, diperkirakan dalam range antara $4773 hingga $4635.







