Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya sedang memantau dengan ketat situasi di Iran, di tengah gelombang protes nasional terbesar sejak 2022 yang kini memasuki minggu ketiga. Trump menegaskan bahwa pemerintahannya sedang mengkaji berbagai opsi respons, termasuk kemungkinan langkah militer.
"Kami melihat ini dengan sangat serius. Pihak militer sedang mengkajinya, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat," ujar Trump kepada wartawan pada Minggu (11/1/2026) di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat kembali ke Washington. "Kami akan segera membuat keputusan."
Protes massa di Iran awalnya dipicu oleh krisis mata uang dan kehancuran ekonomi akibat sanksi internasional serta ketidakstabilan domestik. Namun, tuntutan demonstran kini bergeser ke penggulingan rezim teokratis, menjadikannya ancaman paling serius bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sejak Revolusi Islam 1979.
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), lebih dari 540 orang tewas dan 10.000 lainnya ditangkap dalam demonstrasi yang melanda 186 kota di 31 provinsi Iran. Akses internet dan komunikasi masih terbatas karena pembatasan pemerintah, menyulitkan pelacakan skala penuh kerusuhan.
Trump juga mengisyaratkan bantuan restorasi internet melalui layanan Starlink milik Elon Musk. "Kami mungkin bisa menyalakan kembali internet, jika memungkinkan," katanya. "Saya akan menelepon Elon segera setelah ini."
Sementara Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan dialog dan menenangkan situasi, pejabat lain mengancam pengadilan cepat serta hukuman mati bagi pengunjuk rasa. Trump justru secara terbuka mendukung para demonstran, dengan postingan di media sosialnya pada Sabtu: "Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!"
Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu dan rival AS. Iran merespons dengan peringatan keras kepada Washington dan Israel, menyatakan siap membalas jika diserang.
Situasi ini mengingatkan pada protes 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini, di mana ratusan tewas dan ribuan ditahan. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi bisa memicu konflik regional lebih luas, mengingat ketegangan nuklir Iran dan aliansi dengan kelompok seperti Hizbullah.







