Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka pembicaraan lebih lanjut mengenai program nuklir Teheran, namun persetujuan akhir masih menunggu keputusan Presiden Donald Trump. Berita itu mendorong lonjakan saham AS dan kejatuhan tajam harga minyak.
Sumber Axios yang mengutip pejabat AS mengatakan nota kesepahaman (MoU) 60 hari itu mencakup pelayaran “tanpa batas” melalui Selat Hormuz, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran, serta komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir. Trump telah diberi pengarahan dan meminta beberapa hari untuk mempertimbangkan kesepakatan tersebut. Media Iran menyebutkan draf tidak resmi yang menyatakan pengiriman komersial melalui Selat Hormuz dapat kembali ke tingkat pra-perang dalam satu bulan, dan bahwa Iran bersama Oman akan mengelola lalu lintas selat.
Namun Gedung Putih kemudian memberi sinyal skeptis: Trump menolak laporan bahwa satu negara dapat mengendalikan Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa Oman “akan berperilaku seperti negara lain atau kita harus menghukumnya.” Media Iran juga mengatakan kerangka kerja belum final.
Jika disahkan, kesepakatan itu akan menjadi terobosan terbesar sejak konflik yang dimulai akhir Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Sejak awal April, pihak-pihak terkait berada dalam gencatan senjata yang diperpanjang sambil terus bernegosiasi.
Meski optimisme sempat muncul, ketegangan kembali setelah insiden militer terbaru di Teluk. Di sisi lain Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait yang kemudian dicegat, dan sebelumnya meluncurkan lima drone serang di sekitar Selat Hormuz yang juga berhasil diintersep oleh pasukan AS. Media Iran melaporkan angkatan bersennjata mereka menembakkan peringatan ke kapal-kapal yang melintasi selat tanpa pengawasan, serta menayangkan rekaman respons Korps Garda Revolusi Islam terhadap serangan di Bandar Abbas.
Insiden-insiden ini menandai risiko kembalinya permusuhan terbuka antara AS dan Iran, meski militer AS menyatakan serangannya sebagai tindakan pembelaan diri dan menegaskan gencatan senjata masih berlaku. Ketegangan regional diperparah oleh kelanjutan konflik Israel melawan Hizbullah di Lebanon selatan.







