Presiden Donald Trump mengumumkan pada Selasa (31 Maret 2026) bahwa pasukan militer Amerika Serikat akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, setelah misi menghancurkan ancaman nuklir negara tersebut dinyatakan berhasil. Serangan gabungan AS–Israel terhadap fasilitas strategis Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dan memicu konflik berskala tinggi yang memakan korban serta mengganggu pasokan minyak global.
“Kami akan segera pergi,” ujar Trump kepada sejumlah wartawan di Ruang Oval. “Kami pergi karena misi telah selesai—tidak ada lagi alasan untuk bertahan.”
Trump menegaskan bahwa AS tidak memerlukan kesepakatan baru dengan Iran untuk menyelesaikan proses penarikan pasukan. “Mereka butuh 15–20 tahun untuk membangun kembali fasilitas yang kami hancurkan,” tambahnya, merujuk pada operasi militer malam sebelumnya yang menargetkan pabrik rudal dan fasilitas nuklir Iran.
Dampak Ekonomi : Bensin dan Selat Hormuz
Trump juga mengomentari melonjaknya harga bensin di AS yang mencapai rata‑rata sekitar US$4 per galon akibat penutupan Selat Hormuz. Ia memprediksi penurunan harga secara bertahap setelah penarikan pasukan dimulai, dengan menekankan prioritas keamanan nasional. “Ya, harga naik, tapi sekarang tidak ada ancaman nuklir mengarah ke kami—dan rakyat Amerika merasa lebih aman,” kata Trump.
Trump menegaskan bahwa AS tidak akan lagi menjadi “penjaga utama” Selat Hormuz. Ia menyerahkan tanggung jawab keamanan perairan strategis tersebut kepada negara‑negara pengimpor minyak lain. “Itu bukan urusan kita. Biarlah Prancis atau siapa pun yang bergantung padanya yang mengurus,” tegas presiden.
Menurut Sekretaris Pers Karoline Leavitt melalui media sosial, Presiden Trump dijadwalkan berpidato nasional tentang situasi Iran pada pukul 21:00 ET (23:00 GMT) pada Rabu ini, yang kemungkinan akan menjadi forum utama untuk menjelaskan detail penarikan pasukan dan kebijakan lanjutan.
Respons Tegas Iran
Iran merespons pernyataan Trump dengan nada tegas. Ebrahim Azizi, kepala Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka hanya untuk kapal yang mematuhi “hukum baru Iran”, sebuah formulasi yang kemungkinan mengacu pada rencana pungutan biaya tol atau aturan maritim baru. “Trump mungkin telah mencapai mimpinya soal perubahan rezim, tapi di ranah maritim kawasan ini kita lah yang menentukan,” tulis Azizi di media sosial.
Reaksi Pasar : Saham Naik, Minyak Stabil, Emas Cairkan Premium Safe‑Haven
Pasar keuangan global merespons rencana de‑eskalasi dengan optimisme. Indeks saham utama Wall Street rebound setelah tekanan dua pekan terakhir sejak dimulainya operasi militer pada 28 Februari. Pada Selasa, S&P 500 menguat sekitar 3,2%, NASDAQ Composite naik 3,9%, dan Dow Jones Industrial Average menguat 2,4%.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah menunjukkan pergerakan terbatas. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei 2026 naik 0,4% menjadi US$101,77 per barel, sementara patokan Brent berhenti di sekitar US$106,50 per barel setelah menguat sekitar 0,2%. Kenaikan harga minyak sepanjang Maret 2026 mencapai sekitar 25%, level tertinggi sejak 2022, yang dipicu penutupan Selat Hormuz dan kekhawatiran gangguan pasokan.
Harga emas spot terpantau di sekitar US$2.450 per ons, menguat sekitar 1,1% pada hari yang sama. Pergerakan ini mencerminkan awal penurunan permintaan safe‑haven, tetapi dengan ruang untuk koreksi lebih lanjut jika de‑eskalasi benar‑benar berlanjut.
Analisis Trader : Skenario Pergerakan Minyak dan Emas
Para pelaku pasar mencatat bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama atau aturan biaya tol Iran diterapkan, harga minyak berpotensi bertahan di atas kisaran US$100 per barel dalam jangka pendek. Kondisi ini masih menguntungkan posisi long di kontrak berjangka, terutama pada kontrak WTI dan Brent.
Namun, prospek de‑eskalasi dan penarikan bertahap pasukan AS membuka peluang koreksi tajam di harga minyak dan emas. Para trader disarankan untuk mencermati pidato nasional Trump Rabu malam sebagai katalis kunci yang dapat memicu rollover posisi, terutama jika presiden mengonfirmasi penarikan militer yang cepat dan tanpa komitmen keterlibatan baru di Timur Tengah.







