Harga emas merosot ke kisaran $4.150 pada sesi awal perdagangan Asia hari Kamis. Kenaikan imbal hasil obligasi dan harga energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi berkepanjangan dan kebijakan moneter yang lebih ketat. Peluang kenaikan suku bunga The Fed mereda setelah data inflasi PCE tercatat lebih rendah dari perkiraan. Selanjutnya pasar menantikan data ketenagakerjaan AS bulan September sebagai katalis baru, yang akan dirilis pada hari Jumat.
Ulasan Analisa Fundamental
Imbal hasil Treasury 10 tahun naik ke 5,298% dan tenor 30 tahun ke 5,642%, sementara harga minyak menguat akibat kebuntuan AS–Iran. Kondisi ini menekan harga emas karena imbal hasil tinggi meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan bunga. Meski data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan—PCE Agustus naik 3,4% dan Core PCE 3,0% secara tahunan—sikap The Fed tetap hawkish. Neel Kashkari dari the Fed menilai inflasi sekitar 3% masih terlalu tinggi dan membuka kemungkinan satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini serta satu kenaikan tambahan pada 2027. Emas turun ke level terendah dalam tujuh minggu. Menurut OCBC, penembusan di bawah 4.200 dapat memperparah aksi jual teknikal. Emas berpotensi stabil jika data AS, terutama Core PCE dan NFP, melemah atau imbal hasil turun; sebaliknya, kenaikan harga minyak, dolar, dan yield akan mempertahankan tekanan bearish.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Kamis, di pasar Asia harga emas rebound menguji resistance $4165. Harga emas sempat turun ke level $4139. Pesan hawkish the Fed menguntungkan dolar, sementara perundingan AS - Iran yang berakhir buntu di Qatar berisiko mendorong naiknya kembali harga minyak. Turunnya emas menguji support di area $4139, $4110 hingga $4085. Sementara resistance emas menguji area $4165, $4187, $4212. Emas diperkirakan bergerak dalam range $4187 hingga $4085.







