Harga minyak dunia mengalami penurunan pada sesi perdagangan Asia Jumat ini (27 Februari 2026), dipicu oleh kesepakatan AS-Iran untuk melanjutkan pembicaraan nuklir serta peningkatan pasokan dari Venezuela. Perkembangan ini meredam risiko geopolitik di Timur Tengah, meskipun ketegangan masih membayangi pasar.
Penurunan Harga yang Signifikan
Kontrak minyak Brent untuk pengiriman April 2026 turun 0,4% menjadi US$70,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) April anjlok ke US$64,92 per barel pada pukul 20:15 ET (sekitar pukul 08:15 WIB). Penurunan ini mencerminkan keseimbangan antara kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah dan sinyal peningkatan suplai global. Analis ANZ memperkirakan fluktuasi pasokan hingga 10 juta barel per hari, tergantung hasil negosiasi mendatang. Sebagai gambaran, harga Brent sempat menyentuh US$75 per barel pekan lalu akibat eskalasi konflik.
Kemajuan Pembicaraan Nuklir AS-Iran
Ronde pembicaraan nuklir AS-Iran di Wina berakhir Kamis malam tanpa kesepakatan final, tetapi kedua pihak sepakat melanjutkan diskusi teknis minggu depan melalui mediator Oman. Fokus utama tertuju pada keamanan Selat Hormuz, di mana gangguan berkepanjangan berpotensi mendorong lonjakan harga sementara. OPEC+ pun bersiap meningkatkan produksi jika diperlukan. Ketegangan ini menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak sepanjang Februari, didukung oleh penempatan pasukan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Lonjakan Pasokan dari Venezuela
Penjualan minyak Venezuela melalui kesepakatan dengan AS diproyeksikan mencapai US$2 miliar pada akhir Februari, menyusul pengambilalihan aset minyak negara itu oleh Washington setelah penangkapan Nicolás Maduro awal tahun. Produksi domestik Venezuela kini melonjak, dengan perusahaan seperti Vitol dan Trafigura memasarkannya ke pasar Asia, Eropa, dan India. Kenaikan ini diperkirakan menekan harga minyak secara global hingga akhir 2026, seiring peningkatan stok dunia yang mencapai 1,5 juta barel per hari.
Secara keseluruhan, pasar minyak kini bergantung pada hasil negosiasi AS-Iran dan stabilitas pasokan non-OPEC. Investor disarankan memantau perkembangan Selat Hormuz dan laporan stok minyak mingguan dari EIA AS.







