Emas menunjukkan pergerakan positif pada hari Jumat, dan mencapai level tertingginya di pasar Asia pada hari Senin di kisaran $4.600/onz. Sentimen penghindaran risiko terus mendukung harga emas, meskipun dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Memanasnya ketegangan geopolitik antara AS-Rusia, ditambah ancaman Donald Trump terhadap Iran, menjadi pendorong utama bagi pelaku pasar untuk menggenjot akumulasi emas.
Ulasan Analisis Fundamental
Dolar AS menyentuh level tertingginya sejak 10 Desember pada hari Jumat. Namun, penguatan dolar ini tertahan setelah pasar kembali merespons pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara CNBC pada hari Kamis. Bessent menyatakan bahwa penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, sehingga Federal Reserve (Fed) harus segera menurunkannya.
Para pedagang kini memperkirakan Fed akan memangkas biaya pinjaman pada Maret dan melanjutkan pemangkasan di akhir tahun ini. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik yang meningkat—akibat invasi AS ke Venezuela, perselisihan diplomatik China-Jepang, perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, serta ancaman Trump terhadap Iran—terus mendukung pergerakan XAU/USD. Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai bahwa akhir perang di Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun masih sangat jauh dari kenyataan.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan hari Jumat, harga emas naik mengabaikan data ekonomi positif AS, menyentuh $4.517/onz. Grafik harian menunjukkan kelanjutan pola bullish yang kuat. Di sesi Asia hari Senin, emas bahkan mencapai puncak $4.601/onz, didorong faktor geopolitik yang dominan.
Kenaikan ini membatasi potensi penurunan dengan level support kuat di $4.513, $4.500, hingga $4.480. Sementara itu, resistance utama berada di $4.600, $4.632, dan $4.645. Secara keseluruhan, emas diproyeksikan bergerak dalam rentang $4.509–$4.632 dalam jangka pendek.







