Harga emas mengalami kenaikan dalam perdagangan Asia pada hari Selasa, memperpanjang tren positif untuk sesi keempat berturut-turut. Kenaikan ini terjadi karena investor mempertimbangkan dampak dari konflik yang meluas di Timur Tengah, meskipun penguatan dolar AS membatasi potensi kenaikan lebih lanjut. Harga emas spot terakhir tercatat naik sebesar 1,1% menjadi $5.378,55 per ons. Dolar AS juga menunjukkan penguatan di tengah meningkatnya aktivitas safe haven akibat ketegangan tersebut.
Ulasan Analisa Fundamental
Pasukan AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan senior. Serangan ini mendorong Teheran untuk membalas dengan serangan rudal di berbagai lokasi. Konflik ini telah meluas hingga ke luar perbatasan Iran, dengan serangan Israel terhadap Lebanon setelah adanya aksi dari Hizbullah. Terdapat juga insiden di mana pertahanan udara Kuwait secara keliru menembak jatuh jet AS.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer ini dapat berlangsung selama beberapa minggu ke depan. Di sisi lain, Iran telah bersumpah untuk menyerang kapal-kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi aliran minyak global. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, sekaligus menambah permintaan emas sebagai aset safe haven. Meskipun terdapat perbaikan dalam data-data ekonomi AS, dampaknya terhadap harga emas tampak terbatas.
Ulasan Analisa Teknikal
Dalam perdagangan hari Senin, harga emas mengalami lonjakan, menguji level $5.393 per ons. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Potensi kenaikan harga emas diperkirakan dapat berlanjut hingga level $5.420, $5.451, dan $5.520. Di sisi lain, penurunan harga emas tampaknya terbatas, dengan level support di $5.324, $5.280, hingga $5.255. Secara keseluruhan, emas diperkirakan akan bergerak dalam tren bullish di kisaran antara $5.324 hingga $5.550.







