Zona euro menghadapi dilema ganda: pertumbuhan melambat sementara inflasi memanas, mendorong ECB berpotensi memperketat kebijakan moneter lebih lanjut. Para peramal profesional ECB merevisi tajam proyeksi Q2 2026—inflasi utama melonjak ke 2,7% untuk 2026 (dari 1,8% sebelumnya) akibat biaya energi yang melambung dari konflik Timur Tengah, sementara pertumbuhan PDB riil dipangkas ke 1,0%.
Revisi Proyeksi Kunci
ECB menyoroti perang Iran sebagai pemicu utama, dengan efek putaran kedua diprediksi terkendali pada 2026–2027—asalkan konflik tidak berkepanjangan dan harga minyak stabil. Berikut ringkasan proyeksi:
Perbedaan Pendapat di Dewan ECB
Survei ini mempertajam dilema ECB: pertumbuhan lemah tapi inflasi membandel, berpotensi memicu pengetatan yang menekan EUR lebih lanjut di tengah risiko geopolitik.
Peter Kazimir (Slovakia): Prospek inflasi "condong ke atas"; kenaikan suku bunga Juni "hampir pasti" karena harga energi tak kunjung reda.
Francois Villeroy de Galhau (Prancis): Pendekatan hati-hati, butuh data kuat soal inflasi inti, upah, dan ekspektasi sebelum sikap hawkish.







