Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (Fed) mengumumkan hasil rapat kebijakan moneter terbarunya pada Rabu (29/4) waktu setempat. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran target 3,5%–3,75%, dengan suara mayoritas 8-4. Keputusan ini mencerminkan kewaspadaan Fed terhadap inflasi yang masih membandel dan gejolak global.
Suara Dissenting dari Anggota FOMC
Tiga gubernur bank regional Fed—Beth Hammack (Cleveland), Neel Kashkari (Minneapolis), dan Lorie Logan (Dallas)—menolak keputusan tersebut. Mereka mendukung pemeliharaan suku bunga, tetapi menentang "pencantuman bias pelonggaran" dalam pernyataan resmi, yang dianggap terlalu dovish.
Deputi Gubernur Fed, Stephen Miran, juga menyatakan penolakan. Ia justru mendorong penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (seperempat persen) untuk merespons pelemahan ekonomi.
Penyesuaian Pernyataan: Sorotan Ketidakpastian Global
Fed merevisi pernyataannya dengan menambahkan bahwa "perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingkat ketidakpastian yang tinggi." Hal ini menunjukkan pengaruh konflik geopolitik terhadap prospek ekonomi AS.
Kondisi Ekonomi AS Menurut Fed
Dalam pernyataan resminya, Fed mencatat:
Pertambahan lapangan kerja rata-rata tetap rendah.
Tingkat pengangguran tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.
Inflasi masih tinggi, sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga energi global baru-baru ini.
Keputusan ini menandakan Fed masih memprioritaskan pengendalian inflasi sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga, meski pasar keuangan global terus memantau sinyal selanjutnya.







