trump-siapkan-blokade-selat-hormuz-jangka-panjang-eskalasi-tekanan-ekonomi.jpgSumber Foto: metrotvnews.com

Trump Siapkan Blokade Selat Hormuz Jangka Panjang, Eskalasi Tekanan Ekonomi

berita

radityo - octaNews

29 Apr 2026 11:28 WIB

Trump menginstruksikan timnya mempersiapkan blokade berkepanjangan terhadap Iran, menandakan pergeseran strategi AS ke tekanan ekonomi berkelanjutan ketimbang serangan militer besar-besaran atau diplomasi cepat-cepat. Laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (28 April 2026), yang mengutip pejabat AS, menyebut langkah ini fokus pada pembatasan ekspor minyak Iran dan pengiriman pelabuhannya. Blokade dinilai lebih rendah risiko dibanding opsi militer, menyusul gencatan senjata April yang menghentikan pengeboman massal tapi meninggalkan ketegangan regional memuncak.

Penolakan Proposal Iran

Trump baru-baru ini menolak proposal tiga langkah dari Iran, yang menawarkan pembukaan dini Selat Hormuz sambil menunda negosiasi nuklir. Ia menilai tawaran itu tak memenuhi tuntutan AS, termasuk komitmen Iran menangguhkan pengayaan uranium minimal 20 tahun serta pembatasan program nuklir lanjutan. Meski demikian, blokade berisiko memicu kebuntuan panjang. Para pejabat AS memperingatkan potensi fase "tanpa kesepakatan, tanpa perang" karena diplomasi mandek, yang bisa memperburuk gangguan pasokan minyak global.

Dampak Ekonomi dan Krisis Minyak

Harga minyak WTI naik ke $99,10/barel$99,10/barel untuk hari ketiga berturut-turut, bahkan sempat menembus $100/barel$100/barel akibat risiko pasokan global membengkak. Pembicaraan perdamaian AS-Iran terhenti total; Selat Hormuz ditutup, menghentikan 20% aliran minyak dunia. AS memperketat tekanan dengan sanksi terhadap kilang Tiongkok yang terkait Iran, biaya transit Hormuz yang melonjak, serta ancaman pengucilan perbankan bagi negara pembeli minyak Iran.

Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan keluar dari OPEC per 1 Mei 2026—pukulan telak bagi produsen minyak di tengah krisis energi global. Iran sendiri rugi hingga $170$170 juta per hari; Pulau Kharg (pusat ekspor minyak utama) hampir penuh, berisiko kerusakan infrastruktur permanen. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz diprediksi terus mendorong harga minyak naik, berpotensi memicu kekhawatiran inflasi global yang meluas

Presiden AS Donald Trump menginstruksikan timnya mempersiapkan blokade berkepanjangan terhadap Iran, menandakan pergeseran strategi dari serangan militer besar-besaran atau diplomasi kilat ke tekanan ekonomi berkelanjutan. Mengutip pejabat AS, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada Selasa (28 April 2026) bahwa fokusnya adalah pembatasan ekspor minyak Iran dan pengiriman pelabuhannya. Langkah ini dianggap lebih aman dibanding opsi militer, pasca-gencatan senjata April yang menghentikan bom massal tapi meninggalkan ketegangan Timur Tengah memuncak.

Trump menolak proposal tiga langkah Iran yang menjanjikan pembukaan dini Selat Hormuz sambil menunda negosiasi nuklir. Alasannya: proposal itu gagal memenuhi tuntutan AS, seperti penangguhan pengayaan uranium minimal 20 tahun dan pembatasan program nuklir lanjutan. Blokade ini berpotensi menciptakan kebuntuan panjang—"tanpa kesepakatan, tanpa perang"—dengan risiko gangguan pasokan minyak dunia yang parah.

Krisis Minyak Memburuk
Harga WTI melonjak ke $99,10/barel$99,10/barel untuk hari ketiga, sempat tembus $100/barel$100/barel. Pembicaraan AS-Iran macet; Selat Hormuz tertutup, blokir 20% aliran minyak global. AS tambah tekanan: sanksi kilang Tiongkok berhubungan Iran, biaya transit Hormuz membengkak, dan ancaman pengucilan bank bagi pembeli minyak Iran.

UEA keluar OPEC per 1 Mei 2026, hantaman besar di tengah krisis energi. Iran bocor $170$170 juta/hari; Pulau Kharg nyaris penuh, ancam rusak permanen. Penutupan selat berkepanjangan bisa picu inflasi global lewat harga minyak yang tak terkendali.

Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.