Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data ketenagakerjaan non-pertanian (NFP) AS dan keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA), di tengah ketegangan Timur Tengah yang terus mendukung dolar AS serta imbal hasil obligasi. Optimisme awal terhadap proposal perdamaian Iran-AS memudar setelah Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasan dan ancaman blokade lanjutan, memicu kekhawatiran Selat Hormuz tetap tertutup serta inflasi yang lebih tinggi.
Analisis Federal Reserve (Fed)
Fed memutuskan mempertahankan suku bunga karena inflasi masih membara. Voting terpecah—satu anggota mendukung penurunan, tiga lainnya ingin tunda sinyal potong—justru memperkuat ekspektasi tak ada pemangkasan tahun ini, bahkan membuka peluang kenaikan pada 2027. Data NFP Maret mencatat tambahan 178 ribu pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,3% dan pertumbuhan upah yang masih kencang. Pasar kini menanti NFP berikutnya untuk membentuk ulang spekulasi kebijakan Fed di era Kevin Warsh.
Proyeksi Reserve Bank of Australia (RBA)
RBA diprediksi menaikkan suku bunga 25 bps untuk ketiga kalinya berturut-turut, didorong inflasi CPI 4,6% (y/y) dan pasar kerja solid (pengangguran 4,3%). Namun, voting tipis 5-4 melemahkan sinyal hawkish; pasar menanti konfirmasi lebih banyak anggota mendukung kenaikan, terutama jika harga minyak dari krisis Timur Tengah terus menekan inflasi.
Faktor Pendukung Lainnya
Pasar juga memantau:
Data pekerjaan Kanada (bersamaan NFP AS).
Bank of Canada (BoC) yang hold, menilai inflasi minyak sebagai tekanan sementara.
CPI Swiss yang tertekan krisis energi; franc Swiss tetap kuat, memicu kekhawatiran Swiss National Bank (SNB) soal deflasi dan potensi intervensi FX.
Ketegangan geopolitik ini berpotensi memperpanjang dominasi dolar, sambil menekan aset risikonya.







