Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Senin menyatakan bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada posisi ideal untuk "menunggu dan melihat" dampak kenaikan harga minyak akibat konflik Iran terhadap inflasi dan perekonomian AS. Ia menekankan bahwa Fed tidak akan bereaksi prematur terhadap lonjakan harga energi, karena kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu panjang dan kurang efektif meredam guncangan pasokan jangka pendek.
Penekanan Pendekatan "Wait and See"
Dalam diskusi yang dimoderasi di Universitas Harvard, Powell menjelaskan bahwa instrumen kebijakan moneter seperti suku bunga pada dasarnya menargetkan permintaan, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap guncangan pasokan minyak yang datang-pergi. Menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi akibat harga minyak melonjak justru berisiko membebani perekonomian setelah krisis mereda, karena efeknya baru terasa belakangan.
"Guncangan energi cenderung datang dan pergi dengan cepat. Kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu panjang dan variabel," ujar Powell. Ia menegaskan komitmen Fed untuk bersikap reaktif tapi tidak berlebihan, dengan memilih kesabaran agar menghindari over-reacting terhadap lonjakan harga minyak yang durasi dan skalanya masih belum pasti.
Stabilitas Suku Bunga dan Proyeksi Inflasi
Pada pertemuan awal bulan ini, Fed mempertahankan suku bunga pada level saat ini sesuai ekspektasi pasar, sambil mengakui ketidakpastian tinggi dari konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Proyeksi inflasi terbaru Fed memperkirakan setidaknya satu pemangkasan suku bunga pada 2026, meski inflasi PCE inti diproyeksikan lebih tinggi tahun ini.
Powell mengingatkan bahwa Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) terbaru sulit diandalkan. "Yang ingin saya tekankan adalah tidak ada yang tahu. Dampaknya bisa lebih besar, lebih kecil, atau jauh berbeda. Orang-orang menuliskan proyeksi yang masuk akal, tapi tanpa keyakinan tinggi," katanya. Pendekatan ini mencerminkan preferensi Fed untuk memantau konflik, harga minyak, dan data inflasi secara real-time, daripada mengambil keputusan berisiko tinggi berdasarkan skenario hipotetis. Dengan demikian, Fed menjaga fleksibilitas untuk merespons jika tekanan inflasi bertahan atau guncangan energi memicu risiko resesi lebih dalam.







