Dolar AS melemah pada Senin setelah menguat selama dua pekan berturut-turut hingga menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025. Pelaku pasar kini berfokus pada rangkaian data pasar tenaga kerja yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter, menyusul data inflasi pekan lalu. Pelemahan dolar juga dipengaruhi membaiknya sentimen risiko, dengan pasar saham pulih setelah mengalami tekanan besar pada pekan sebelumnya. Ketegangan di Timur Tengah yang sempat meningkat selama akhir pekan mereda setelah Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah meminta pertemuan dengan Amerika Serikat di Qatar. Pada pukul 15.59 ET (19.59 GMT), indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun 0,3% ke 101,11. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan 1,6% dalam dua pekan terakhir.
Fokus ke Data Ketenagakerjaan
Penguatan dolar dalam dua pekan terakhir sebelumnya didorong oleh ekspektasi kuat akan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kondisi itu juga memicu aksi jual obligasi, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Data inflasi pilihan bank sentral yang dirilis pada Kamis lalu mencatat kenaikan tahunan tertinggi sejak Oktober 2023, sementara ukuran utamanya menunjukkan kenaikan tertinggi sejak April 2023. Meski begitu, angka-angka tersebut masih sesuai dengan ekspektasi ekonom. Setelah rilis data itu, pasar menurunkan sedikit probabilitas kenaikan suku bunga The Fed tahun ini dan menambah ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan. Banyak pelaku pasar menilai inflasi Mei kemungkinan menjadi puncak tekanan harga, terutama karena harga minyak turun kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah dan membantu meredakan kekhawatiran inflasi. Data tenaga kerja pekan ini akan menjadi penentu berikutnya bagi arah dolar dan suku bunga. Pada Selasa, pasar akan mencermati data lowongan kerja April, disusul laporan ADP pada Rabu, dan laporan payrolls non-pertanian pada Kamis. Jika data tersebut kuat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan akan semakin terbatas.
“Survei JOLTS dan revisi April yang menyertainya, yang dijadwalkan rilis besok, dapat mendorong suku bunga dan dolar AS naik signifikan jika hasilnya melampaui level tertinggi 23 bulan sebelumnya,” kata José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers. Ia menambahkan bahwa pasar umumnya memperkirakan penurunan, sehingga kejutan positif berpotensi memicu volatilitas. Menurutnya, jika lowongan kerja meningkat tajam di tengah inflasi yang masih tinggi, The Fed akan semakin hawkish dan lebih fokus pada tekanan harga ketimbang kondisi ketenagakerjaan. Torres juga menyebut hasil yang lebih kuat dari perkiraan dari ADP, Challenger, dan data pemerintah pada akhir pekan dapat memicu gejolak di pasar musim panas. Sebaliknya, data yang lebih lemah dari perkiraan cenderung menjadi sentimen positif bagi pasar karena memperkuat pandangan bahwa risiko perlambatan ekonomi tetap terkendali dan ekspektasi kenaikan suku bunga cenderung lebih dovish.
Lagarde dan ECB
Di sisi lain, perhatian pasar pada Senin juga tertuju ke forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan ekonomi Eropa kini lebih tangguh terhadap guncangan eksternal. Lagarde juga menyinggung keputusan ECB awal bulan ini yang menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. “Beberapa pihak menyebut kenaikan suku bunga kami awal bulan ini sebagai ‘insurance hike’. Itu bukan deskripsi yang tepat,” katanya. “Kami menghadapi prospek inflasi utama dan inflasi inti yang meningkat, sementara proyeksi menunjukkan inflasi baru kembali ke 2% pada kuartal keempat 2027. Itu pun bergantung pada penyesuaian kebijakan moneter. Analisis kami menunjukkan bahwa mempertahankan suku bunga tetap akan membuat inflasi berada di atas 2% pada 2027 dan 2028,” tambah Lagarde.Setelah pernyataan itu, euro terakhir naik 0,4% ke $1,1424, sementara poundsterling juga menguat 0,4% ke $1,3259.
Yen Jepang Terus Melemah
Di pasar mata uang lain, yen Jepang kembali melemah dan menyentuh level terendah terhadap dolar AS sejak 1986. Tekanan pada yen mencerminkan perbedaan arah kebijakan moneter Jepang dengan bank sentral utama lainnya, di tengah ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi.







