1783059272877-w7fbc.jpgSumber Foto: idnfinancials.com

Dolar AS Melemah, Prospek Naiknya Suku Bunga Berkurang Paska Data NFP Yang Mengecewakan

Berita

radityo - octaNews

3 Jul 2026 13:10 WIB

Dolar AS melemah ke level terendah sejak akhir April pada Kamis, setelah laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Di saat yang sama, yen Jepang mencatat penguatan terkuat terhadap dolar sejak awal Mei karena pasar mengantisipasi potensi intervensi dari Tokyo. Pada pukul 15.56 ET (19.56 GMT), indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,5% menjadi 100,86.

Fokus Pasar ke Data Tenaga Kerja

Kalender ekonomi AS pekan ini dipenuhi indikator pasar tenaga kerja yang memengaruhi arah kebijakan moneter. Pada Selasa, lowongan pekerjaan AS untuk Mei sempat melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun. Namun, data pada Rabu memberi sinyal beragam: laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan perlambatan pemutusan hubungan kerja pada Juni, sementara data ADP untuk tenaga kerja swasta justru lebih lemah dari perkiraan.

Perhatian pasar memuncak pada laporan pekerjaan resmi pada Kamis. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan penambahan 57.000 pekerjaan non-pertanian pada Juni, jauh di bawah konsensus 114.000 dan melambat dari revisi turun bulan Mei sebesar 129.000. Penambahan lapangan kerja terutama terjadi di sektor jasa profesional dan bisnis, bantuan sosial, serta kesehatan, sementara sektor rekreasi dan perhotelan justru melemah.
Dengan data Juni tersebut, rata-rata tiga bulan pertumbuhan lapangan kerja kini berada di sekitar 111.000, yang masih menunjukkan pasar tenaga kerja yang cukup tangguh secara keseluruhan. BLS juga menyebut tingkat pengangguran turun ke 4,2% pada Juni, dari 4,3% selama tiga bulan sebelumnya. Data minggu ini menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid, tetapi laju penciptaan kerja yang melambat memberi ruang bagi The Fed untuk lebih berhati-hati. Bank sentral sebelumnya mengisyaratkan bahwa selama pasar tenaga kerja tetap stabil, fokus utama mereka adalah menurunkan inflasi. Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, juga menyebut para pembuat kebijakan akan mengurangi panduan kebijakan ke depan.
Warsh mengulang pesan itu dalam forum bank sentral di Portugal pada Rabu, sambil menambahkan bahwa risiko inflasi telah mereda. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan harga naik akibat lonjakan harga minyak setelah serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari. Namun, harga minyak mentah acuan turun tajam sejak pertengahan Juni setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan damai sementara yang membuka kembali Selat Hormuz.

Pedagang sempat menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga saat gejolak minyak memuncak. Kini, dengan tekanan inflasi yang mulai mereda dan pasar tenaga kerja tetap tangguh, The Fed dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga. CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga turun, sementara kemungkinan suku bunga tetap stabil sedikit meningkat. Imbal hasil obligasi Treasury jangka pendek yang sensitif terhadap suku bunga juga ikut melemah.

Secara umum, suku bunga yang lebih tinggi cenderung menopang dolar. Namun, pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga saat ini justru menekan greenback. “Implikasi langsung dari laporan pekerjaan Juni bagi The Fed bersifat dovish, karena pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat dari perkiraan dan membuat argumen kenaikan suku bunga dari sisi pasar tenaga kerja menjadi kurang mendesak,” kata Bill Adams, kepala ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank. “Dalam beberapa bulan ke depan, jika pasokan tenaga kerja tidak mengejar permintaan, implikasi yang lebih hawkish bisa muncul. Semakin lama tren ini bertahan dan menekan tingkat pengangguran, semakin kuat pula alasan untuk suku bunga yang lebih tinggi pada akhirnya,” tambahnya. Ia menilai penurunan harga bensin dan energi lain pada Juni, ditambah pertumbuhan penggajian yang melambat, membuat kenaikan suku bunga menjadi kurang mendesak untuk saat ini. “Secara keseluruhan, The Fed masih cenderung mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan berikutnya di akhir Juli,” ujarnya.

Yen Menguat di Tengah Spekulasi Intervensi

Di pasar mata uang lain, yen Jepang menguat tajam terhadap dolar pada Kamis setelah muncul spekulasi bahwa pejabat Tokyo melakukan “pemeriksaan suku bunga”, memicu kekhawatiran adanya intervensi valuta asing. Yen sempat melonjak hingga 1% ke 160,64 per dolar, sebelum memangkas kenaikannya dan terakhir menguat 0,9% ke 161,12.
Pergerakan tajam itu memunculkan dugaan bahwa Bank of Japan telah melakukan pemeriksaan suku bunga, yakni prosedur ketika pejabat bank sentral menghubungi pelaku pasar untuk memantau kondisi dan level pasar. Itu membuat trader tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi resmi lebih lanjut.
Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.