1782711688817-6zv2x.jpgSumber Foto: richmondfed.org

Barkin, Inflasi AS Masih Terlalu Tinggi, Tapi Ada Tanda Mereda

Berita

radityo - octaNews

29 Jun 2026 12:41 WIB

Gubernur Federal Reserve wilayah Richmond, Tom Barkin, mengatakan inflasi di Amerika Serikat masih berada di level yang terlalu tinggi, meski ia mulai melihat tanda-tanda awal bahwa tekanan harga dapat mereda dalam waktu dekat. “Angka-angka itu terlalu tinggi,” kata Barkin dalam wawancara dengan Bloomberg pada Minggu (28/6) di sela-sela Aspen Ideas Festival di Aspen, Colorado. Data yang dirilis pada Kamis menunjukkan indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), ukuran inflasi utama yang dijadikan acuan The Fed, melonjak 4,1% secara tahunan hingga Mei, tertinggi sejak April 2023. Menurut Barkin, kenaikan harga yang semula dipicu perang di Iran kini telah menyebar ke berbagai sektor ekonomi.

“Sulit untuk yakin inflasi akan kembali ke target 2% tanpa pengaruh lebih lanjut dari suku bunga acuan, pasar tenaga kerja, atau faktor lain yang mendorong disinflasi,” ujarnya. Barkin mengatakan dirinya cukup terdorong oleh turunnya harga bensin di wilayahnya, seiring merosotnya harga minyak mentah setelah tercapainya gencatan senjata terbaru antara AS dan Iran. Namun, ia menilai masih ada faktor lain yang menopang inflasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dalam skala besar. Ia menambahkan, perkembangan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan masih perlu dicermati sebelum arah kebijakan moneter berikutnya diputuskan.

Pada rapat kebijakan awal bulan ini, pejabat The Fed mempertahankan suku bunga acuan. Meski demikian, semakin banyak pembuat kebijakan yang menilai bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi tahun ini untuk menahan laju inflasi. Sejumlah rekan Barkin juga mengkhawatirkan lonjakan harga di sektor jasa, yang selama ini dikenal lebih sulit ditekan. Ada pula kekhawatiran bahwa inflasi yang sudah lebih dari lima tahun bertahan di atas target 2% dapat mempengaruhi ekspektasi masyarakat, sehingga membuat upaya The Fed mengembalikan stabilitas harga semakin berat. Barkin menilai tekanan harga akibat tarif dagang dan guncangan minyak dunia seharusnya mulai mereda, yang pada akhirnya dapat membantu mendinginkan inflasi. Namun, ia mengingatkan bahwa daya beli masyarakat Amerika masih kuat selama setahun terakhir, sehingga tekanan konsumsi dapat menjadi hambatan bagi penurunan inflasi menuju target. Ia juga menyoroti perilaku perusahaan dalam menetapkan harga di tengah inflasi yang masih tinggi.

“Perusahaan, ketika menetapkan harga produk, ikut memasukkan inflasi saat ini. Karena itu, saya melihat ada persistensi inflasi,” kata Barkin. “Saya khawatir soal itu, dan itulah mengapa kebijakan yang sedikit restriktif tampaknya masuk akal.” Menurut Barkin, perusahaan kini menghadapi biaya input yang lebih tinggi, sementara konsumen mulai menolak kenaikan harga. Kondisi itu membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan beban biaya kepada pembeli.

Dalam kunjungan ke wilayah barat Virginia, Barkin mengatakan para pemimpin perusahaan menyampaikan bahwa mereka belum memutuskan besaran kenaikan kompensasi atau gaji untuk tahun depan. Saat harga bensin sempat melonjak, mereka sempat mempertimbangkan kenaikan upah yang lebih besar dari biasanya. Namun, dengan harga bensin yang kini mulai mereda, kenaikan besar itu tampaknya tak lagi diperlukan.
Disclaimer :

Transaksi perdagangan berjangka komoditi atau trading derivative memiliki potensi kerugian dan keuntungan yang tinggi, harap pastikan bahwa Anda mengambil tindakan yang tepat untuk dapat mengelolanya.