Sebagian wilayah Teheran dan Provinsi Alborz lumpuh total akibat pemadaman listrik massal pasca-serangan rudal pada Minggu (29 Maret 2026). Ini menandai eskalasi baru ketika Iran beserta proksinya (Houthi dan Hizbullah) membalas serangan terhadap sekutu AS, bersamaan ribuan pasukan tambahan Washington membanjiri Timur Tengah.
Pengerahan Militer dan Korban Jiwa
Gugus tugas amfibi AS telah tiba, memicu kekhawatiran perang meluas. Total korban jiwa melebihi 4.500 orang: 75% di Iran (sekitar 3.375 tewas), 1.200 di Lebanon, puluhan di Israel dan negara Teluk, serta 13 tentara AS.
Serangan gabungan AS-Israel telah menghancurkan 11.000 target dan 150 kapal Iran. IAEA mengonfirmasi kerusakan parah di fasilitas nuklir Khondab. Di pihak lain, Houthi meluncurkan rudal ke Israel, Iran menyerang pabrik aluminium di Bahrain dan UEA; Arab Saudi melaporkan 15 tentara AS luka ringan serta kehancuran pesawat E-3 Sentry senilai US$300 juta.
Krisis Selat Hormuz
Iran mengancam menguasai Selat Hormuz (melalui mana 1/5 minyak dunia lewat), dengan rencana undang-undang pungutan biaya lintas dan dana regional (Fars News). Daniel Yergin dari S&P Global memperingatkan: "Iran berpotensi memicu perang ekonomi global via kanal alternatif pribadi."
Arab Saudi mengalihkan 7 juta barel/hari melalui pipa East-West ke Yanbu (di luar jangkauan Houthi), sementara Pakistan mengizinkan 20 kapal tanker lewat wilayahnya.
Diplomasi dan Pernyataan Kunci
Pakistan siap menjadi tuan rumah rundingan Iran-AS (menurut Menteri Luar Negeri Ishaq Dar), tapi proses masih stagnan. Presiden Trump menunda tenggat 6 April untuk membuka Hormuz atau memadamkan listrik Iran sepenuhnya; ia menolak proposal 15 poin plus tuntutan kompensasi dari Teheran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf (Tasnim News) menyatakan: "Pasukan kami menunggu invasi darat AS." Pemimpin baru Mojtaba Khamenei (Hamshahri) mengucapkan terima kasih kepada Irak atas dukungan, sementara AS mengklaim Iran mengalami luka parah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperluas zona operasi di Lebanon dengan tekad menghancurkan Hizbullah.
Indikasi Dampak Global
Prancis menggagalkan bom di dekat Bank of America di Paris, diduga terkait jaringan Timur Tengah. Washington Post melaporkan Pentagon mempersiapkan operasi darat dalam minggu-minggu ke depan, fokus pada Hormuz. Mesir, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mendorong diplomasi, meski Iran menyebutnya sebagai kedok pengerahan pasukan AS.
Proyeksi: Tanpa terobosan diplomasi, krisis energi global berisiko memburuk, dengan harga minyak potensial tembus $120/barel.







