Presiden AS Donald Trump pada Selasa (27 Januari) menyatakan akan segera mengumumkan pilihan Ketua Federal Reserve (Fed) baru, sambil memprediksi suku bunga bakal turun signifikan setelahnya."Ketika kita punya ketua Fed yang hebat, saya pikir kita akan memilikinya. Saya akan segera mengumumkannya. Anda akan melihat suku bunga turun banyak," ujar Trump dalam pidato di Iowa.
Dampak pada Dolar: Trump Nyaman dengan Pelemahan
Pernyataan Trump memicu dolar AS merosot ke level terendah sejak awal 2022. Saat ditanya soal pelemahan mata uang AS, ia justru berkomentar santai: "Tidak, saya pikir itu bagus. Saya pikir nilai dolar—lihat bisnis yang kita lakukan. Dolar berkinerja sangat baik."Indeks Spot Dolar Bloomberg anjlok hingga 1,2%, dengan USD melemah terhadap semua mata uang utama sebelum stabil di sesi Asia Rabu.
Faktor Utama Penurunan Dolar
Kebijakan Trump tak terduga: Ancaman ambil Greenland, tekanan ke Fed, pemotongan pajak yang tambah defisit fiskal, serta polarisasi politik.Rebound yen Jepang: Didorong spekulasi intervensi dari Bank of Japan.Pandangan Trump: Ia sejak lama mengkritik negara lain yang devaluasi mata uang; Menteri Keuangan Scott Bessent membedakan "harga" dolar saat ini dengan "nilai cadangan" jangka panjang.
Pandangan Analis
Win Thin, Kepala Ekonom Bank of Nassau: "Banyak anggota kabinet Trump ingin dolar lemah demi ekspor lebih kompetitif. Risiko sudah diperhitungkan, tapi bisa berantakan."
Bunning, Nomura: Prediksi perdagangan pelemahan dolar akan berlanjut.Penurunan ini ironis, mengingat imbal hasil obligasi AS naik dan Fed kemungkinan hentikan pemangkasan suku bunga pada Rabu—faktor yang biasanya menguatkan USD. Trump yang vokal mendorong suku bunga rendah justru menekan dolar lebih dalam.Investor pun beralih ke aset alternatif: emas cetak rekor tertinggi, sementara reksa dana emerging markets capai inflow rekor—disebut sebagai "penghentian diam-diam" dari aset AS.







