Harga emas anjlok ke sekitar $4.583 selama sesi awal Asia pada hari Senin (2 Februari 2026). Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah emas mencapai level tertinggi historis $5.598 di tengah tanda-tanda stabilitas politik di Amerika Serikat. Para pedagang kini menanti petunjuk dari laporan Manufaktur ISM AS yang dirilis nanti hari ini. Namun, risiko Federal Reserve (Fed) kehilangan independensinya, ditambah prospek suku bunga AS yang lebih rendah, berpotensi membatasi penguatan dolar AS (USD).
Ulasan Analisis Fundamental
Ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump serta ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan terus membebani sentimen investor. Hal ini terlihat dari suasana hati-hati di pasar ekuitas, yang justru bisa mendukung emas sebagai aset safe-haven. Aksi ambil untung emas dipicu penguatan USD di tengah optimisme kesepakatan pendanaan pemerintah. Partai Demokrat dan Gedung Putih telah mencapai kesepakatan sementara untuk mendanai Departemen Keamanan Dalam Negeri, sementara para anggota parlemen bergegas mengesahkan paket pengeluaran pada hari Jumat guna menghindari penutupan sebagian pemerintah AS. Dolar AS menguat tipis sebagai respons, memicu aksi jual emas baru di sesi Asia Jumat lalu. Sementara itu, Trump menyatakan pada Kamis bahwa ia ingin menghindari penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada perdagangan Jumat, emas sempat merangkak naik ke $5.451, tetapi mengalami koreksi tajam ke $4.681 di pasar AS. Penurunan ini diduga dipicu meredanya ketegangan seputar Greenland dan terbukanya negosiasi AS-Iran. Kenaikan emas tertahan di level resistance $4.885, $4.945, hingga $5.065. Sementara itu, koreksi menguji support di $4.580/oz, $4.540, hingga $4.505. Secara keseluruhan, emas diperkirakan bergerak dalam rentang $4.945–$4.540 dalam sesi mendatang.







