Pasar saham AS anjlok pada Kamis (26/3/2026), dengan indeks S&P 500 merosot 1,7%—penurunan terparah sejak Januari dan menyentuh level terendah sejak September 2025. Sebanyak 8 dari 11 sektor berwarna merah, dipicu keraguan soal gencatan senjata AS-Iran serta lonjakan yield obligasi AS 10-tahun ke 4,41% setelah lelang Treasury yang lemah.
Nasdaq 100 terkoreksi 2,4% ke level terendah tujuh bulan, dipimpin oleh Nvidia dan Meta. Kelompok Magnificent Seven (Mag7) turun 3%, menyentuh titik terendah sejak Agustus. Pemulihan parsial terjadi sore hari setelah Presiden Trump memperpanjang deadline Selat Hormuz hingga 6 April, sambil mengklaim negosiasi berjalan "sangat baik"—meski pagi harinya ia sempat mengancam eskalasi.
Pemicu Utama Pasar
Geopolitik Panas: Minyak Brent melonjak ke $106 per barel, sementara indeks volatilitas VIX merangkak ke ~27. Pernyataan campur aduk Trump menekan saham growth seperti tech.
ECB Siaga: Bank Sentral Eropa (ECB) beri sinyal kenaikan suku bunga April jika inflasi akibat konflik Iran memburuk, kata Mark Malek dari Siebert.
Krisis Hormuz: Iran usulkan tol kapal melalui Selat Hormuz (sumber: Fars News); tim Trump sedang kajian skenario minyak mencapai $200 per barel.
Sektor Chip Terpukul: Google TurboQuant perkenalkan kompresi AI yang merugikan produsen memori seperti Micron dan SK Hynix, picu penurunan saham semikonduktor.
Para pakar memperingatkan risiko berkepanjangan :
Melissa Brown (Simcorp): "Penutupan Hormuz bakal ganggu supply chain tech, bukan hanya minyak."
Rob Kapito (BlackRock): "Minyak bisa tembus $150 pasca-perang—rantai pasok butuh waktu lama untuk pulih."
Sameer Samana (Wells Fargo): "Hindari news trading; disiplin jadi kunci selama berminggu-minggu."
Relevansi untuk Trading Anda
Crash saham ini ciptakan peluang: short futures ES (S&P 500) atau NQ (Nasdaq) sambil long emas/perak sebagai safe-haven, terutama saat yield naik tekan valuasi tech. Pantau Hormuz dan data inflasi minggu depan untuk entry point.







