Harga minyak dunia mengalami lonjakan dramatis lebih dari 20% pada sesi perdagangan awal Asia Senin ini (9 Maret 2026), menyentuh level tertinggi sejak 2022. Pemicu utamanya adalah eskalasi perang antara AS, Israel, dan Iran yang memicu kekhawatiran serius atas potensi gangguan pasokan minyak global dalam bulan-bulan mendatang.
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Mei sempat menyentuh puncak $115,04 per barel sebelum terkoreksi tipis ke $107,92 per barel. Lonjakan ini mencerminkan ketegangan yang memuncak, dengan harga minyak Brent naik lebih dari 25% sejak konflik meletus awal Maret.
Eskalasi Konflik dan Serangan Langsung
Konflik ini memasuki hari kesepuluh pada Senin, setelah serangan udara AS-Israel menghantam fasilitas minyak utama Iran di Teheran dan provinsi Alborz akhir pekan lalu—serangan pertama sejak perang dimulai. Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20% konsumsi minyak dunia atau 21 juta barel per hari (bph).
Iran juga dilaporkan menyerang infrastruktur minyak di negara tetangga Timur Tengah, memperburuk kekacauan regional. Analis ANZ dalam catatan risetnya menyatakan: “Situasi ini melampaui skenario terburuk kami. Kemungkinan kenaikan harga minyak lebih lanjut tetap tinggi, terutama jika Selat Hormuz terblokir total.”
Dampak Ekonomi Global dan Respons Pasar
Produsen OPEC+ seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai memangkas produksi karena persediaan menipis akibat gangguan pasokan. Harga bahan bakar ritel global pun melonjak tajam: bensin AS naik 15% dalam seminggu, sementara di Eropa dan Asia, kenaikan mencapai 20-30%.
Presiden AS Donald Trump mengomentari lonjakan ini di X (mantan Twitter) pada Minggu malam: “Harga minyak tinggi ini adalah harga kecil untuk keamanan dan perdamaian dunia. Itu akan turun cepat setelah ancaman nuklir Iran musnah.” Namun, janji administrasinya soal asuransi maritim dan perlindungan angkatan laut untuk kapal di Selat Hormuz gagal meredam kepanikan pasar.
Prospek ke Depan
Investor kini memantau respons Iran selanjutnya serta potensi intervensi lebih luas dari Rusia atau China, mitra dagang utama Teheran. Jika gangguan berlanjut, harga bisa menembus $120 per barel, memicu inflasi global dan resesi di negara importir besar seperti Indonesia dan India—di mana subsidi BBM nasional berisiko membengkak. Pasar menunggu data stok minyak AS minggu ini untuk petunjuk lebih lanjut, sementara para analis memproyeksikan volatilitas tinggi setidaknya hingga akhir kuartal pertama.







