Harga emas turun pada Selasa karena eskalasi AS–Iran mendorong minyak dan imbal hasil obligasi global naik, sehingga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk meredam inflasi. XAU/USD turun 0,5% ke $4.282,54/ons (Gold Futures −0,7% ke $4.364,36); perak dan platinum juga melemah, sementara Dolar AS naik tipis ke 99,76. Dari sisi fundamental, pasar tetap memantau perkembangan data NFP di akhir pekan.
Ulasan Analisa Fundamental
Emas telah turun hampir 6% dalam tiga sesi terakhir ke level terendah dua minggu, dipicu naiknya harga minyak Brent >$95/barel dan WTI >$91/barel yang menghidupkan kembali risiko inflasi; pasar kini memperkirakan probabilitas 70% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan 15–16 September. Sentimen bergeser setelah pidato hawkish Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole dan peringatan Gubernur Fed Michael Barr bahwa The Fed harus siap menaikkan suku bunga jika inflasi tak mereda; yield Treasury 30 tahun naik >5,28%, menghapus sebagian dampak buyback obligasi 19 Agustus, sementara yield obligasi global menyentuh level tertinggi sejak 2008 dan Dolar menguat. Fokus data sebelum keputusan September: JOLTS Juli (konsensus 7,33 juta), ADP Agustus (konsensus +48.000), dan NFP Agustus Jumat 4 September (konsensus +58.000; pengangguran stabil 4,1%); data lemah bisa meredam sentimen hawkish.
Ulasan Analisa Teknikal
Pada perdagangan hari Rabu, di pasar Asia harga emas terus tertekan. Di satu sisi, Potensi turun dapat berlanjut, karena prospek naiknya suku bunga. Harga emas sebelumnya terkoreksi karena pidato Kevin Warsh dan kemungkinan naiknya suku bunga bulan September. Turunnya emas tertahan di area support $4280, $4260 hingga $4224. Resistance emas menguji area $4335, $4348, $4374. Emas diperkirakan bergerak dalam range $4348 hingga $4230. Trend pasar harian bearish.







