West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, anjlok hampir 5% pada pembukaan perdagangan Senin pagi, diperdagangkan di kisaran $90,80 per barel selama jam perdagangan Asia. Penurunan ini merupakan hari keempat berturut-turut dan dipicu oleh meningkatnya optimisme terkait kemungkinan kesepakatan AS–Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz.
Laporan Axios menyebut pejabat AS menyatakan bahwa Washington dan Tehran hampir mencapai kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam rancangan kesepakatan itu, Iran akan membersihkan ranjau yang dipasang di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal berlayar bebas, sementara AS akan mencabut beberapa pembatasan terhadap pelabuhan Iran. Pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan meredakan kekhawatiran pasokan global dan menekan harga energi, karena selat tersebut menangani sekitar satu per lima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Sebelumnya gangguan dan blokade di jalur tersebut memaksa beberapa produsen kawasan menghentikan produksi jutaan barel per hari, sehingga menekan ketersediaan pasokan.
Namun, sentimen turun sedikit setelah Reuters mengutip berita dari Tasnim bahwa AS masih menahan beberapa klausul kunci, termasuk isu pembebasan aset Iran yang diblokir. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan kepada New York Times bahwa meski ada dukungan regional terhadap gencatan, penyelesaian komprehensif atas isu nuklir tidak dapat dicapai secara cepat atau longgar. Ketidakpastian atas detail kesepakatan mempertahankan volatilitas pasar minyak dalam jangka pendek.
Penutup singkat pasar
Pengaruh : Ekspektasi pembukaan kembali Selat Hormuz menekan harga WTI.
Risiko pemulihan harga : Kegagalan merumuskan klausul utama, terutama soal aset Iran.
Perhatian pedagang : Perkembangan negosiasi AS–Iran dan konfirmasi teknis pembukaan jalur maritim.







