Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat tajam 2,45% menjadi sekitar $60,80 per barel pada perdagangan Selasa (13 Januari 2026). Kenaikan ini memperpanjang tren bullish selama empat hari berturut-turut, mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Pendorong utama adalah premi risiko geopolitik akibat ketegangan di Iran. Kerusuhan domestik di Teheran, ditambah retorika keras antara Iran, Washington, dan Tel Aviv, memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Sebagai produsen minyak keempat terbesar dunia dengan output harian sekitar 3,2 juta barel (data OPEC terbaru), Iran menjadi titik rawan. Pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang tarif tambahan 25% bagi negara yang berbisnis dengan Iran semakin memperkuat sentimen ini. Analis Barclays mencatat bahwa pasar saat ini lebih peka terhadap risiko geopolitik daripada fundamental jangka pendek, seperti stok minyak AS yang masih berlimpah.
Faktor Penahan: Ekspor Venezuela Kembali Mengalir
Meski begitu, prospek pemulihan ekspor minyak Venezuela membatasi kenaikan lebih lanjut. Reuters melaporkan bahwa pedagang besar seperti Trafigura dan Vitol siap mendukung logistik atas arahan AS. Kapal tanker pertama berpotensi dimuat akhir minggu ini, berpotensi menambah pasokan global hingga 300.000 barel per hari dalam waktu dekat—mengimbangi defisit potensial dari sanksi Iran.
Outlook Jangka Pendek: Keseimbangan Rapuh
Secara keseluruhan, harga WTI berada dalam keseimbangan antara risiko Iran (mendorong di atas $60) dan kelimpahan pasokan Venezuela (meredam momentum). Dinamika jangka pendek akan bergantung pada perkembangan politik di Iran—seperti eskalasi konflik dengan Israel—serta kecepatan ekspor Venezuela. Investor disarankan pantau laporan stok minyak EIA Rabu ini untuk sinyal lebih lanjut.







