Harga emas melonjak mencapai sekitar $5.230 per troy ounce pada sesi awal Asia, Selasa (24/2/2026), didorong oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global akibat keputusan tarif AS. Para pedagang kini bersiap menyambut laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Januari 2026 yang dirilis Jumat (27/2), sementara data PDB AS kuartal IV/2025 yang lemah telah dirilis hari Jumat lalu, menandakan perlambatan ekonomi.
Analisis Fundamental
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif global menjadi 15% efektif segera setelah putusan Mahkamah Agung membatasi tarif luasnya, memicu kekhawatiran pembalasan dan gangguan rantai pasok yang membebani sentimen risiko serta mendongkrak permintaan emas. Data inflasi AS stabil di 2,7% pada Desember 2025, dengan PPI Januari diprediksi lebih tinggi dari ekspektasi (0,2% MoM, 3,0% YoY), mengurangi harapan pemangkasan suku bunga Fed pada Maret 2026. Selain itu, risiko konflik AS-Iran meningkat karena negosiasi nuklir tidak langsung di Jenewa pada Selasa ini, setelah Iran serahkan proposal detail, dengan AS kerahkan armada militer di kawasan.
Analisis Teknikal
Pada penutupan Jumat (20/2/2026), harga emas di $5.106,68 per ounce, naik 1,11% didukung pemanasan negosiasi AS-Iran dan ketidakpastian tarif. Tren naik berlanjut dengan resistance utama di $5.250, $5.285, $5.315 hingga $5.377; support terbatas di $5.145, $5.115 hingga $5.080, dengan proyeksi rentang $5.065–$5.385. Pasar memantau kelanjutan negosiasi AS-Iran yang berpotensi picu volatilitas lebih lanjut.







