Harga minyak bergerak nyaris datar dalam perdagangan Asia pada Selasa setelah ditutup lebih dari 1% lebih tinggi pada sesi sebelumnya. Pasar masih menilai dampak meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran, serta risiko terhadap pasokan energi Timur Tengah akibat blokade angkatan laut Houthi terhadap Arab Saudi. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September turun tipis 0,3% menjadi US$88,96 per barel, sementara WTI stabil di US$82,53 per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya ditutup hampir 1% lebih tinggi pada Senin di tengah perdagangan yang bergejolak.
Para pedagang masih enggan mengambil posisi besar karena perkembangan geopolitik berubah cepat. Pasar bergerak naik-turun di antara harapan akan diplomasi baru dan kekhawatiran atas gangguan pasokan yang lebih luas. Kabar mengenai kemungkinan gencatan senjata antara Washington dan Teheran sempat menekan harga pada sesi Senin. Namun, harga kembali pulih setelah Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim yang menargetkan Arab Saudi. Blokade itu mengancam jalur pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta menangani sekitar 12% perdagangan global. Jika gangguan berlanjut, kapal tanker bisa terpaksa mengambil rute lebih panjang mengelilingi Afrika selatan, yang berarti biaya pengiriman naik dan waktu pengiriman lebih lama.
Ketegangan juga meningkat karena AS terus menyerang target militer Iran, sementara Teheran membalas dengan serangan ke sekutu-sekutu AS di kawasan. Meski pejabat Iran menyatakan komunikasi diplomatik masih berlangsung, pasar tetap waspada bahwa konflik bisa meluas ke wilayah penghasil minyak utama. Secara umum, analis menilai risiko geopolitik masih menjadi penopang harga minyak. Namun, kenaikannya dibatasi oleh harapan bahwa ketegangan di Timur Tengah sebelumnya sering mereda tanpa mengganggu aliran minyak global dalam jangka panjang. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute pada Selasa malam, lalu data resmi pemerintah AS dari Energy Information Administration pada Rabu, yang akan memberi petunjuk baru soal permintaan bahan bakar di negara konsumen minyak terbesar di dunia.







