Harga minyak dunia anjlok hampir 3% pada perdagangan Asia hari Kamis (15/1/2026), mengakhiri kenaikan lima hari berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang lebih terkendali terhadap ketegangan di Iran, meredakan kekhawatiran gangguan pasokan dalam waktu dekat.
Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Maret turun 2,8% menjadi US$64,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 3% ke level US$60,22 per barel. Sebelumnya, harga sempat melonjak lebih dari 10% dalam lima sesi terakhir, mencapai puncak beberapa bulan terakhir akibat kekhawatiran kerusuhan di Iran yang berpotensi memicu intervensi militer AS.
Trump Redam Ketegangan Iran
Presiden Trump menyatakan pada Rabu (14/1/2026) bahwa ia telah diyakinkan otoritas Iran akan menghentikan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa, serta tidak ada rencana eksekusi massal. Pernyataan ini meredakan spekulasi respons militer AS terhadap demonstrasi anti-pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Ujaran Trump langsung mengikis premi risiko pada harga minyak, yang sebelumnya terdongkrak oleh potensi gangguan produksi atau jalur pelayaran utama dari produsen OPEC terbesar tersebut.
Sinyal Positif dari Venezuela
Faktor lain yang menekan harga adalah isyarat Trump soal hubungan lebih dekat dengan Venezuela. Ia mengungkapkan percakapan pagi Kamis dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, yang disebut "sangat positif". Pembahasan mencakup minyak, mineral, perdagangan, dan keamanan nasional, dengan Trump menambahkan bahwa AS sedang membantu stabilisasi Venezuela.
Para pelaku pasar menilai prospek ini bisa meningkatkan ekspor minyak Venezuela yang selama ini terhambat sanksi AS, sehingga memperkuat ekspektasi pasokan global yang melimpah.
Stok Minyak AS Naik Tak Terduga
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah naik 3,4 juta barel pekan lalu—berlawanan dengan prediksi penurunan 1,7 juta barel. Stok bensin membengkak 9 juta barel, sementara distilat nyaris stagnan, didorong lonjakan aktivitas penyulingan dan impor.
Kenaikan ini menggarisbawahi kelimpahan pasokan di AS, konsumen minyak terbesar dunia, yang semakin meredam sentimen bullish jangka pendek.







