Harga emas spot melemah 1,1% pada perdagangan Kamis menjadi US$2.469,23 per ons, tertekan penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven utama. Investor cenderung ragu terhadap nasib perundingan perdamaian lanjutan antara Washington dan Teheran, setelah Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu. Logam mulia ini kesulitan rebound karena ketidakpastian pasar yang mendominasi.
Analisis Fundamental
Penguatan dolar AS menjadi pendorong utama pelemahan emas, terutama di tengah eskalasi ketegangan AS-Iran. Konflik di Selat Hormuz tetap memanas—Iran memblokir jalur pelayaran, sementara AS mempertahankan blokade—sehingga risiko gangguan pasokan energi melonjak dan memicu inflasi global. Dampaknya, harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel, yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve (Fed). Kondisi ini cenderung negatif bagi emas, karena aset non-yielding seperti emas kalah saing dengan yield obligasi yang lebih menarik.
Analis memproyeksikan arah jangka pendek emas sangat bergantung pada kekuatan dolar: jika greenback terus menguat dan Fed tetap hawkish, tekanan jual pada emas serta logam mulia lain seperti perak berpotensi berlanjut. Namun, potensi rebound muncul jika ketegangan geopolitik memuncak. Dari data ekonomi, laporan University of Michigan 1-Year Inflation Expectation diprediksi melonjak menjadi 4,8% dari 3,8% sebelumnya, yang bisa memperburuk sentimen.
Analisis Teknikal
Pada sesi Kamis, harga emas tertekan hingga level US$2.465 per ons setelah rencana gencatan senjata pudar. Di pasar Asia pagi Jumat ini, emas bergerak naik terbatas dengan resistance kuat di US$2.471, US$2.475, dan US$2.480 per ons. Sementara itu, penurunan harga menguji support di US$2.460; jika tertembus, target berikutnya adalah US$2.463 dan US$2.600.
Untuk hari Jumat secara keseluruhan, emas diprediksi bergerak dalam rentang US$2.471 hingga US$2.455 per ons, dengan volatilitas tinggi dipicu sentimen geopolitik.







