Emas (XAU/USD) menghadapi tekanan bearish kuat dan mencatat kerugian mingguan, meskipun dibuka dengan gap bullish akibat berita serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Dalam waktu dekat, investor akan fokus pada data inflasi AS serta perkembangan terbaru krisis Timur Tengah. Emas gagal memanfaatkan lonjakan ketegangan geopolitik sebagai aliran safe-haven.
Analisis Fundamental
Emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari di atas $2.400 per troy ounce pada awal pekan, tetapi langsung berbalik arah. Kekuatan Dolar AS (USD) yang berkelanjutan menghalangi XAU/USD untuk meraih keuntungan safe-haven, meski pasar global masih menghindari risiko. Kekacauan di Timur Tengah yang meluas mendorong harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 25% secara mingguan—mencapai tertinggi sejak April 2024 di atas $87 per barel—akibat aktivitas angkatan laut yang menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz. Kenaikan ini memicu kekhawatiran inflasi AS yang lebih tinggi.
Selain itu, data makroekonomi AS dirilis lebih baik dari ekspektasi, memperkuat USD dan mendorong pelaku pasar menunda harapan pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (Fed). Akibatnya, prospek penurunan suku bunga semakin tertunda, menekan harga emas.
Analisis Teknikal
Pada perdagangan Kamis, emas turun menguji support $2.350 per ounce akibat penguatan dolar, tetapi penurunan terbatas oleh gejolak geopolitik yang memburuk. Jika momentum bullish pulih, harga berpotensi naik menembus resistance $2.400, $2.430, hingga $2.450. Sebaliknya, penurunan lebih dalam bisa menguji support $2.350, $2.320, dan $2.300.
Secara keseluruhan, emas diprediksi bergerak dalam rentang bullish antara $2.350 hingga $2.450 dalam jangka pendek, dengan volatilitas tinggi dipengaruhi data inflasi AS mendatang.







