Harga emas mencapai titik terendah dalam 1,5 bulan dalam perdagangan Asia pada hari Senin karena kenaikan imbal hasil obligasi global dan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran menekan harga logam mulia. Harga emas spot turun 1,3% menjadi $4.483,67 per ons, mendekati level terendahnya sejak akhir Maret. Emas tetap tertekan di tengah lonjakan imbal hasil obligasi, karena pasar khawatir akan dampak inflasi dari perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Ulasan Analisa Fundamental
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun berada di level tertinggi satu bulan, sementara imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun mencapai level tertinggi 29 tahun pada hari Senin. Imbal hasil melonjak di tengah meningkatnya spekulasi bahwa inflasi yang didorong oleh energi, yang berasal dari perang Iran, akan mendorong suku bunga dan bank sentral yang lebih agresif di seluruh dunia. Skenario seperti itu berdampak buruk bagi emas, mengingat kenaikan suku bunga Dolar menguat karena anggapan ini, menekan harga logam secara lebih luas. Ketegangan antara AS dan Iran tetap tinggi, dengan Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa "waktu terus berjalan" bagi Teheran untuk menerima kesepakatan perdamaian. Amerika Serikat dan Israel terlihat mempertimbangkan kembali aksi militer terhadap Iran. Pertemuan puncak Trump di Tiongkok juga hanya memberikan sedikit kemajuan terkait Iran. Sementara pidato Kevin Warsh pekan ini dinanti.
Ulasan Analisa Teknikal
<> Pada perdagangan hari Senin, harga emas lanjut bergerak turun ke level $4480/onz di pasar AS, setelah semakin memanasnya tensi timur tengah. Pasar melihat the Fed dapat menaikan suku bunga akhir tahun ini. Harga emas nampak naik terbatas ke level $4556 pada pasar Asia hari Senin (18/05). Resistance emas di $4591, $4626 hingga $4660. Sementaraturunnya emas menguji support $4480/onz, bila terlewati, ke $4445, $4420. Emas hari Jumat, diperkirakan dalam range antara $4591 hingga $4480.







