Sentimen pasar didominasi oleh ketegangan AS–Iran, yang mendorong harga minyak melampaui level $100 dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan serta periode aversi risiko. Kondisi geopolitik ini menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan aset berisiko dan aman.
Di sisi kebijakan moneter, Kevin Warsh resmi menjabat sebagai Ketua Federal Reserve. Pidato pertamanya dan risalah rapat Fed April—kedua rilis yang dijadwalkan Rabu—diperkirakan menjadi titik tumpu bagi pasar dalam menilai arah kebijakan moneter dan kemungkinan pergeseran sikap hawkish The Fed
Agenda data minggu depan cukup padat dan berpotensi menggerakkan dolar AS. Rilis penting meliputi data perumahan, indeks PMI pendahuluan, survei Philadelphia Fed, serta lelang obligasi AS 20-tahun. Pasar saat ini memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga berikutnya kemungkinan baru akan terjadi pada 2027, sehingga data-data tersebut menjadi penentu sentimen jangka pendek
Sektor korporasi juga menjadi fokus: laporan pendapatan Nvidia dan perusahaan-perusahaan besar AS yang keluar Rabu dapat mendorong ekuitas lebih tinggi bila prospeknya kuat. Namun, kekecewaan—meskipun kecil—berpotensi memicu koreksi luas pada pasar saham.
Emas bergerak dipengaruhi beberapa faktor kunci: penguatan dolar, kenaikan imbal hasil obligasi, dan perubahan suku bunga riil. Perlu dicatat bahwa korelasi antara harga emas dan indeks S&P kini berada pada level yang sangat tinggi, sehingga fluktuasi pasar saham berdampak lebih besar pada emas.
Di pasar mata uang utama
Euro: Berpotensi menguat jika ketegangan geopolitik mereda dan dolar melemah. ECB diperkirakan masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada Juni, dengan keputusan bergantung pada data PMI dan kondisi ekonomi zona euro.
Pound sterling: Tekanan terhadap pound datang dari risiko politik domestik Inggris dan kenaikan imbal hasil jangka panjang yang menambah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan. Pekan depan data klaim pengangguran, inflasi, dan penjualan ritel akan menjadi ujian bagi mata uang ini.
Yen: Tetap lemah terhadap dolar. Hanya kombinasi data PDB yang kuat, perbaikan PMI manufaktur, dan retorika BoJ yang lebih hawkish yang dapat mendukung apresiasi yen dan membuka peluang kenaikan suku bunga oleh BoJ.
Dolar Australia: Bergantung pada data ekonomi China dan rilis risalah RBA. Performa China yang lesu akan menekan AUD.
Dolar Kanada (loonie): Melemah di tengah fokus pada data CPI April dan ritel; risiko stagflasi dapat mendorong Bank of Canada ke arah pemangkasan suku bunga.
Kesimpulan singkat: Pasar saat ini dipengaruhi oleh kombinasi risiko geopolitik yang menekan pasokan energi dan kalender ekonomi-kebijakan yang padat. Hasil pengukuran data ekonomi, arah pidato pembuat kebijakan (termasuk Ketua Fed baru), serta laporan perusahaan besar akan menjadi pemicu volatilitas berikutnya.







