Harga emas spot merosot pada Kamis (26/3/2026) akibat kebingungan investor terhadap situasi geopolitik. Pernyataan Presiden Donald Trump soal negosiasi damai dengan Iran dianggap ambigu, sementara penguatan dolar AS (DXY naik 0,8%) menekan emas batangan. Meski sempat rebound di atas $4.500/oz, emas terkoreksi ke $4.351/oz pada Jumat pagi (27/3)—bukan lagi safe-haven utama di mata pasar.
Analisis Fundamental
Dolar Dominan: Indeks DXY menguat sebagai safe-haven pilihan saat konflik Iran, buat emas terasa "mahal" bagi pembeli non-AS.
Inflasi & Fed: Kekhawatiran inflasi energi dorong spekulasi Fed pertahankan sikap hawkish; pasar prediksi kenaikan suku bunga 38% pada Desember.
Yield & Obligasi: Imbal hasil US 10-tahun naik ke 4,41% tekan emas lebih lanjut.
Trump Factor: Tambah ketidakpastian—Iran "memohon" kesepakatan tapi "belum tentu" (pernyataan kabinet); tweet malam perpanjang jeda serang energi Iran 10 hari, klaim negosiasi "sangat baik". Iran respons proposal AS 15 poin (via Tasnim), tunggu balasan Washington. Efek: Saham AS anjlok, minyak Brent $106/barel.
Outlook: Pola bullish emas bertahan jika tembus $4.500; tapi risiko downside jika Hormuz eskalasi.
Analisis Teknikal
Pada Kamis, emas rebound ke $4.544 tapi gagal tembus resistance $4.602/oz, lalu balik ke $4.351.
Resistance: $4.475, $4.505, $4.602.
Support: $4.351 (kunci), $4.305, $4.265, $4.221.
Proyeksi: Bergerak sideway di range $4.475–$4.265, tergantung update Timur Tengah. Breakout naik jika negosiasi maju; downside jika yield lanjut naik.
Emas tetap volatil—pantau Trump tweet dan data inflasi minggu ini untuk trading signal.







