Harga emas spot rebound kuat dalam perdagangan Asia pada Rabu (4 Maret 2026) ini, setelah anjlok hampir 5% pada sesi sebelumnya akibat penguatan dolar AS. Investor kini menilai ulang permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik AS-Iran. Terakhir, harga emas spot naik 1,4% menjadi US$5.158,27 per ons.
Kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga—diduga karena ancaman inflasi dari kenaikan harga minyak mentah—turut memengaruhi sentimen. Ancaman inflasi ini justru membuka opsi kenaikan suku bunga di masa depan, meski saat ini mendukung emas sebagai lindung nilai.
Ulasan Analisis Fundamental
Logam mulia ini sempat tertekan 4,5% pada Selasa lalu, didorong lonjakan indeks Dolar AS ke level tertinggi enam minggu dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penguatan dolar didukung permintaan safe haven serta meredanya ekspektasi pemotongan suku bunga agresif oleh The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, penurunan emas terbatas berkat ketegangan geopolitik yang membara di Timur Tengah. Konflik AS-Iran meluas setelah serangan terkoordinasi AS terhadap target terkait Iran, memicu ancaman balasan dari Teheran. Kekhawatiran ini berpotensi mengganggu pasokan energi global dan melibatkan kekuatan regional lain. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$85 per barel, terutama karena risiko gangguan di jalur pelayaran utama Teluk Persia, yang semakin mendukung narasi bullish emas.
Ulasan Analisis Teknikal
Pada Selasa lalu, harga emas terkoreksi menguji support kuat di US$4.996 per ons akibat dominasi dolar. Penurunan ini dibatasi gejolak geopolitik yang memanas.
Potensi kenaikan emas berpeluang berlanjut menembus resistance di US$5.205, US$5.250, hingga US$5.315. Sebaliknya, downside terlihat terbatas di support US$5.085, US$5.040, hingga US$4.995. Secara keseluruhan, emas diproyeksikan bergerak dalam tren bullish di rentang US$5.085–US$5.280, dengan bias beli pada pullback.







